Para Panelis Diskusi "Memahami Politik Kebohongan dan Demokrasi Elektoral" sabtu,,06/10/18di Jakarta.

telusur.co.id – Peneliti Lembaga Pemilih Indonesia (LPI) Ilham Sani mengatakan, kasus Ratna Sarumpaet menjadi contoh pelajaran bagi kehidupan demokrasi di Indonesia.

Menurutnya, sudah terlalu biasa bagi sebagian kalangan politik kubu oposisi menggunakan kampanye hitam atau black campaign untuk menyudutkan pemerintah.

“Bukan hanya mencari kesalahan, tapi juga mengada-adakan sesuatu yang tidak ada,” kata Ilham dalam diskusi bertajuk ‘Memahami Politik Kebohongan dalam Kaca Mata Pemilu’ di kawasan Jakarta Selatan, Sabtu (6/10/18).

Dia menyayangkan, dampak informasi sesat dan sesaat yang dikatakan Ratna ternyata bisa meyakinkan seorang calon presiden dan kubunya untuk menggelar konferensi pers untuk membela dan menyatakan keprihatinan terhadap demokrasi Indonesia.

“Ada kalimat (dalam konferensi pers itu), intimidasi ini disebabkan karena Ibu Ratna menjadi bagian dari jurkam kubu Prabowo. Ancaman terhadap dia (Ratna) merupakan ancaman terhadap demokrasi,” terangnya.

Diungkapkannya, kalimat yang diucapkan kubu Prabowo tersebut membuat LPI melihat adanya ancaman serius.

“Mudah-mudahan ini menjadi kasus terakhir penggunaan kebohongan, hoax dan black campaign yang diadak-adakan untuk mengambil keuntungan elektoral,” harapnya.

“Kita adalah negara demokrasi yang dijadikan panutan. Sehingga akan sangat memalukan membiarkan adanya cacat dalam proses demokrasi,” pungkasnya.[far]

Bagikan Ini :