Para Panelis Diskusi "Memahami Politik Kebohongan dan Demokrasi Elektoral" sabtu,,06/10/18di Jakarta.

telusur.co.id – Lembaga Pemilih Indonesia (LPI) mengusulkan 3 Oktober diperingati sebagai Hari Hoax Nasional. Usulan tersebut dibacakan di sela-sela diskusi bertajuk “Memahami Politik Kebohongan dalam Kacamata Pemilu” di kawasan Jakarta Selatan, Sabtu (6/10/18).

Direktur LPI Boni Hargens mengatakan, politik kebohongan merupakan sebuah revolusi strategi dalam politik elektoral yang harus dicermati secara mendalam sebagai bagian dari dinamika buruk demokrasi.

“Kebohongan telah menjadi esensi kampanye hitam dan tren baru yang berpotensi mengancam masa depan peradaban demokrasi,” kata Boni.

Menurut Boni, apabila kekuatan kebencian memenangkan pemilu, maka negara akan dikendalikan dengan dan dalam semangat kebencian. Dia menilai, politik kebencian bisa meluluhlantakkan seluruh bangunan peradaban sebagai bangsa dan masyarakat manusia.

“Untuk itu, LPI menyarankan, baiklah kita mempertimbangkan 3 Oktober sebagai Hari Hoax Nasional untuk mengingatkan generasi selanjutnya bahwa pada satu titik sejarah telah terjadi drama kebohongan terbesar yang mengancam peradaban,” terangnya.

Diungkapkannya, peringatan ini penting sebagai alarm untuk menyadarkan generasi selanjutnya bahwa hoax adalah musuh demokrasi dan musuh peradaban manusia.

“Ada baiknya kita memberikan apresiasi yang setinggi-tingginya kepada Ibu Ratna Sarumpaet dengan menganugerahkannya sebuah penghargaan sebagai ‘Ibu Hoax Indonesia’ untuk mengenang ‘jasa baik’nya dalam membuka kotak Pandora kebohongan yang menjadi arus baru politik di tanah air,” ujarnya.

Diketahui, aktivis Ratna Sarumpaet mengaku telah melakukan kebohongan terkait penganiayaan dirinya di Bandung pada 21 September 2018. Saat ini, Ratna sudah ditahan setelah sebelumnya ditangkap di Bandara Soekarno Hatta dan menjadi tersangka atas kebohongan yang dilakukannya.[far]

Bagikan Ini :