FOTO: Kholis Malik

PETARUNG. Satu kata sejuta makna. Madah mulia ini merujuk pada mutu atau kualitas seseorang pada apa yang diyakini dan diperjuangkan. Jiwa petarung, nampaknya ada dalam diri Kholis Malik (48). Kali ketiga, pada Pemilu 2019 nanti dirinya merantas untuk maju sebagai calon legislatif di daerah pemilihan Jawa Barat X (Ciamis, Kuningan, Kota Banjar dan Pangandaran).

Pria kelahiran Ciamis, 7 September 1970 ini sadar betul, janji kemerdekaan belum sepenuhnya terlaksana. Maka dipilihlah politik sebagai medan juang.

Pada Pemilu 2014 lalu, mantan Ketua Umum PB HMI (2002-2004) ini berada di urutan ketiga dari kompetitor partainya. Ia meraup 15.609 suara. Kecewa? Tentu saja. Namun sekali lagi harus diingat, Kholis manusia petarung. Ia punya tradisi aktivisme yang kuat. Ia pantang menyerah.

“Untuk jadi orang besar, memang dibutuhkan kerja yang juga besar,” tegas Kholis.

Suami dari Wahyuni Refi Setya Bekti ini, sadar betul akan ungkapan pepatah, telah kukembangkan layarku, telah kuarahkan kemudiku, lebih baik tenggelam daripada kembali. Lazimnya, kekalahan mengarahkan kita dalam pusaran instrospeksi. Kholis lakukan itu.

Bulan bergulir berganti tahun, menggilas bilangan satu, dua, dan seterusnya. “Sampai saat ini, kami kembali lakukan konsolidasi. Menang, adalah yang kami ijabah dan semoga Allah SWT mengabulkan. Sekarang kami terus ikhtiar untuk lakukan perubahan,” ujar Departemen Pemenangan Pemilu (Jawa-Kalimantan) DPP Partai Golkar ini.

Syahdan, suhu politik sudah suam-suam kuku. Dingin tidak, panas pun belum terlalu. Sembari mematangkan strategi, Kholis ingin menawarkan konsep tentang aktualisasi Revolusi Industri 4.0. Ide ini akan difokuskan pada sektor pertanian dan pariwisata. Inilah potensi yang ada di Jabar X.

Ia ingin melakukan digitalisasi dua sektor tersebut. Sehingga, mata rantai ekonomi yang dimulai dari produksi sampai meja konsumsi akan berefek pada konstituennya. Kholis pun tak sungkan menggandeng anak muda untuk berdiskusi sekaligus berbuat. Baginya, apalah guna seabrek ide jika tak ditopang kolaborasi.

Bak musafir jumpa oase, rasa lega menyelimuti relung hatinya. Di tiap perjuampaan kala berkunjung ke Jabar X, animo anak muda terus bertambah. Terutama para pendukungnya. Mereka galibnya kerja relawan, dengan suka rela bahkan berinisiatif membuat posko Kholis Malik. Anak-anak muda itu tipe manusia gesit. Dipanggil tengah malam, mereka nongol. Dibutuhkan saat subuh, mereka berlabuh. Dicari saat siang terik, mereka hadir.

Demikianlah Kholis, yang beberapa bulan lalu pernah didapuk menjadi Wakil Ketua Panitia Festival Shalawat Nusantara 2018. Alumni Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga Yogyakarta ini, adalah Komisaris PT Andalan Mega Pratama (AMP), jiwa usaha ternyata juga mengalir dalam dirinya yang bersahaja.

Laki-laki yang doyan bakso dan suka novel sejarah ini tercatat pernah menorehkan sebuah buku, “Memandu Reformasi: Antologi Catatan Harian” (terbit 2002). Yang menarik lagi, meski Kholis terlahir sebagai Generasi X atau Gent Bust, dirinya tetap memilih berpikir dan bergaya millenial. Ia tak mau gaptek dan memang punya paras instagramable.

Bagikan Ini :