Koordinator Jubir Pasangan Prabowo Sandi, Dahnil Anzar Simanjuntak. FOTO: Istimewa

telusur.co.id– Elektabilitas pasangan Prabowo Subianto-Sandiaga Salahuddin Uno tertinggal jauh dari duet Joko Widodo-Ma’ruf Amin. Hal tersebut berdasarkan hasil survei Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC).

Koordinator Juru Bicara Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo-Sandi, Dahnil Anzar Simanjuntak  mengatakan, sangat wajar jika petahana unggul sementara dalam berbagai survei. Namun, menurut Dahnil, hasil survei saat ini tidak menjadi jaminan bahwa calon tersebut pasti menang.

“Wajar bila petahana surveinya lebih tinggi, dan itu terjadi dibanyak tempat, namun belakangan ini terlalu sering lembaga survei salah dan hasilnya petahana kalah,” kata Dahnil saat dihubungi, Senin (8/10/18).

Ketua Umum Pemuda Muhammadiyah itu menjelaskan, belajar dari dua kali Pilgub DKI, dimana petahana elektabilitasnya selalu tinggi, namun hasil akhirnya tetap saja kalah. Sebagai contoh ialah Fauzi Bowo saat melawan Joko Widodo, kemudian Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) dan Anies Rasyid Baswedan.

“Belajar dari kasus survei Pilkada misalnya, Survei Pak Foke dulu juga lebih tinggi dibandingkan Pak Jokowi. Survei Ahok juga jauh lebih tinggi dibandingkan Anies  dulu ketika Pilkada DKI. Hasilnya, Pak Foke kalah pun demikian Ahok,” jelas Dahnil

Oleh sebab itu, menurut Dahnil, sangat wajar saat ini Jokowi-Ma’ruf Amin surveinya selalu unggul. “Dengan berbagai sumber daya yang dimiliki, mulai dari uang, birokrasi dan lainnya, biasa saja, petahana awalnya jamak memang lebih tinggi hasil surveinya,” tandas Dahnil.

Sebelumnya, dalam survei SMRC yang dilakukan pada 7-14 September 2018. Hasilnya duet Joko Widodo-KH Ma’ruf Aminmeraih perolehan suara 60,4 persen sedangkan Prabowo –Sandi 29,8 persen.

Survei dilakukan pada 1.220 responden dengan response rate 1.074 responden. Survei dilakukan dengan metode multistage random sampling. Margin of error  kurang lebih 3,05 persen.[far]

Bagikan Ini :