Anggota Komisi II Andi Mariattang disela-sela diskusi "Mengantisipasi Politik Uang dalam Pemilu 2019 dan Penegakkan Hukumnya" di Media Center Bawaslu RI, Jalan MH Thamrin, Jakarta Pusat, Senin (8/10/2018).

telusur.co.id – Anggota Komisi II DPR RI Andi Mariattang mengungkapkan, money politic atau politik uang dalam pemilu memiliki daya rusak yang sangat tinggi. Menurutnya, jika politik uang dibiarkan, maka hal ini akan merusak demokrasi.

“Ini punya daya rusak yang tinggi. Saya tahu betul ketika di lapangan, ketika money politic dibiarkan, maka akan merusak demokrasi,” kata Andi dalam diskusi bertajuk “Mengantisipasi Politik Uang dalam Pemilu 2019 dan Penegakkan Hukumnya” di Media Center Bawaslu RI, Jalan MH Thamrin, Jakarta Pusat, Senin (8/10/2018).

Dia mengaku prihatin ketika ada warga negara menggadaikan hak pilihnya hanya karena beberapa liter beras atau sembako dan uang yang tidak seberapa.

“Banyak fakta di lapangan bagaimana basis-basis masyarakat yang sudah kita bina sekian lama, bisa berubah haluan seketika hanya karena poltiik uang,” ungkapnya.

Menurutnya, pemilu kali ini harus ada perbedaan. Harus berani menggalang gerakan bersama, tidak hanya caleg, tapi juga diharapkan penyelenggara pemilu harus sekuat tenaga menopang kualitas demokrasi dengan menekan politik uang.

“Siapapun pelaku money politik, itu sama saja merendahkan martabat manusia. Kalau memang anda tidak dikehendaki (untuk dipilih) ya sudah. Ketika anda menggunakan uang untuk terpilih, menurut saya itu adalah bentuk ketidakpercayaan diri,” terang politikus PPP itu.

Dia menilai, yang namanya pemilu itu harus egaliter, ada kesetaraan. Jangan karena seseorang memiliki modal yang kuat, dia punya kesempatan yang lebih.

“Saya punya prinsip, pemilu itu untuk mensejahterakan rakyat. Ketika wakil rakyat yang dipilih untuk bekerja, bukan mengembalikan modal,” tambahnya.

Karenanya, dia berharap, gerakan anti politik uang ini harus digulirkan terus. Dia pun mengajak seluruh komponen masyarakat di daerah-daerah untuk melakukan kampanye tolak politik uang.

“Saya setuju yang harusnya terdepan melawan money politic ini adalah caleg. Dan pada akhirnya, harapan kita juga pada penyelenggara pemilu,” pungkasnya. (ham)

Bagikan Ini :