Politisi Partai Demokrat Ferdinand Hutahaean,/Net

telusur.co.id- Calon Presiden nomor urut dua, Prabowo Subianto mengaku ada yang datang kepadanya meminta agar tidak keras-keras dalam berpidato.

Kadiv Advokasi dan Hukum DPP Partai Demokrat Ferdinand Hutahaean mengaku memaklumi jika ada permintaan seperti itu. Karena, Prabowo memang bersikap keras terhadap sesuatu yang tidak baik terhadap bangsa.

“Saya memahami mengapa permintaan itu ada. Prabowo memang keras kepada sesuatu yang tidak baik terhadap bangsa, dan itu harus didukung bukan malah di rem,” kata Ferdinand kepada telusur.co.id, Senin (8/10/18).

Menurut dia, kritikan keras Prabowo sebenarnya patut didukung. Sebab, kritikan keras pun kerap tidak digubris oleh pemerintah,  apalagi hanya sekedar teguran.

“Harus didukung bahkan dengan masukan data dan informasi yang lebih baik. Mengapa perlu, karena pemerintah ini termasuk keras kepala. Ditegur keras saja tidak perduli, apalagi ditegur dengan ringan, makin tak perduli dia,” imbuh dia.

Ferdinand mengakui belum mengetahui siapa yang berani meminta mantan Danjen Kopassus itu untuk tidak keras-keras dalam perpidato. Namun, Ia meyakini setiap apa yang disampaikan Prabowo memang sesuai dengan kondisi negara saat ini.

“Saya percaya apa yang disampaikan oleh Prabowo bahwa itu benar ada yang minta. Itu bukan hoax,” tandasnya

Sebelumnya, calon presiden Prabowo Subianto mengaku mendapat tudingan negatif ketika dirinya memantapkan diri untuk maju Pilpres tahun depan. Bahkan, ada yang meminta agar dirinya tidak terlalu keras-keras dalam berpidato.

“Saya ini dapat tudingan macam-macam, ada yang bilang saya haus kekuasaan. Ada yang bilang ini dan itu, ada yang sengaja datang ke saya memberi saran pak Prabowo kalau pidato jangan keras-keras, dan dia orang baik dia pendukung saya jadi saya bicara itu yang sejuk,” kata Prabowo saat menghadiri acara tasyakur Ponpes di Jalan Sukabumi – Cianjur KM 10 Sukalarang, Minggu, kemarin.

Namun demikian, Prabowo menegaskan, tidak mendengarkan saran itu. Ia tetap akan lantang dalam menyuarakan kondisi bangsa.

“Tapi saya tidak bisa tinggal diam, ketika masih ada rakyat yang kelaparan sementara di Jakarta sana segelintir orang mencuri kekayaan kita, rakyat Indonesia dianggap bodoh semua,” kata dia.[Ipk]

Bagikan Ini :