H. Lukman Hakiem

Oleh Lukman Hakiem
Peminat Sejarah

PADA PERTENGAHAN 1956, Ketua Umum Partai Masyumi, Mohammad Natsir, memenuhi undangan untuk menghadiri Muktamar Alam Islami di Damaskus, Suriah.

Natsir datang ke Damaskus disertai oleh Arifin Datuk, dan Bahalwan.
Tokoh Nahdlatul Ulama (NU) K.H.M. Dachlan menyebut keberangkatan Natsir ke Muktamar Alam Islami, mewakili umat Islam Indonesia.

Inilah untuk pertama kalinya Natsir menghadiri Muktamar Alam Islami.
Pada Muktamar I di Karachi, Pakistan, tahun 1951, umat Islam Indonesia diwakili oleh Dr. Soekiman Wirjosandjojo.
Pada Muktamar II di Baitul Makdis, Palestina, tahun 1954, umat Islam Indonesia diwakili oleh Mr. Achmad Soebardjo, K.H. Moh. Kafrawi, dan K.H. Siradjuddin Abbas.

Tentang Maulana Maududi

Negara-negara Islam, kecuali Mesir, hadir pada Muktamar di Damaskus. Mesir tidak hadir karena sedang sibuk mempersiapkan pembukaan Terusan Suez.
Dari India hadir Abdul Hasan Al-Nadwi yang oleh Natsir disebut “Kiai Besar dari India”.

Dari Pakistan hadir Abul ‘Ala al-Maududi yang biasa juga dipanggil Maulana Maududi.

Karena pendiriannya yang teguh, pada suatu ketika pemerintah Pakistan menganggap Maududi sebagai bahaya dan ancaman bagi Pakistan. Maududi ditangkap. Pengadilan memvonnis Maududi hukuman mati.

Umat Islam di berbagai penjuru dunia yang mendengar hukuman mati dijatuhkan kepada Maududi, ramai-ramai memprotes. Mereka minta supaya hukuman itu dibatalkan dan Maududi dibebaskan tanpa syarat.

Umat Islam Indonesia melalui Badan Koordinasi Umat Islam (BKUI) menyampaikan tuntutan serupa.
Alhamdulillah protes dan permintaan umat Islam didengar oleh pemerintah Pakistan. Perdana Menteri Mohammad Ali, membebaskan Maududi.
Ketika Maududi tiba di arena Muktamar, dia disambut dengan gegap gempita.

Terpilih Menjadi Ketua Muktamar

Lazimnya di setiap pertemuan internasional, tuan rumah pasti menjadi ketua pertemuan.Mengikuti tradisi internasional, di awal persidangan, Natsir mengusulkan supaya wakil dari Suriah ditetapkan menjadi Presiden (Ketua) Muktamar Alam Islami.
Di luar dugaan, usul simpatik Natsir ditolak.
Wakil negara-negara Arab mengajukan kontra usul, yaitu agar Mohammad Natsir dari Indonesia ditetapkan menjadi Presiden Muktamar.

Kontra usul itu juga meminta supaya Abul ‘Ala al-Maududi dari Pakistan dan Abdul Hasan al-Nadwi dari India ditetapkan sebagai Wakil Presiden Muktamar.
Kontra usul dari negara-negara Arab disetujui secara aklamasi. Maka, trio pemimpin dan pemikir Islam: Natsir, Maududi, dan Nadwi; tampil memimpin Muktamar Alam Islami.

Muktamar kemudian memilih Sayid Ramadhan menjadi Sekretaris Jenderal. Ramadhan adalah anggota Ikhwanul Muslimin yang terkemuka.

Berjumpa Sahabat Lama

Pada resepsi pembukaan Muktamar, hadir antara lain anggota parlemen Suriah, Sayid al-Chouri.
Natsir yang sudah mengenal Chouri sejak masa perjuangan kemerdekaan, segera menghampiri.

Menjelang akhir acara, Natsir meminta alamat rumah Chouri. Kepada sahabat lamanya itu, Natsir menyampaikan niat, selesai Muktamar, akan mengunjungi Chouri di kediamannya.

Tentu saja Chouri senang mendengar niat mulia Natsir. Meskipun demikian, Chouri menyarankan Natsir untuk membatalkan rencana mulianya itu.

“Mengapa Tuan menolak rencana kunjungan saya?” tanya Natsir heran. “Tuan tidak senang?”
Sambil tersenyum, Chouri menjelaskan bahwa dirinya sangat senang mendengar rencana Natsir. Akan tetapi, karena rumah Chouri terletak di sebuah desa kecil sekitar 100 kilometer dari Damaskus, maka jika Natsir tidak datang ke rumahnya, Chouri sangat paham.

“Tuan Natsir tentu lelah mengikuti agenda Muktamar yang padat. Tidak usah menambah lelah dengan berkunjung ke rumah saya. Bukankah kita sudah bertemu di sini?” ujar Chouri.
Betapapun dicegah, Natsir tetap pada rencananya akan datang ke rumah Chouri.

Besar Jasanya untuk Perjuangan Indonesia
Mengapa Natsir berkeras hendak datang ke rumah Chouri nun jauh di luar kota Damaskus?

Kepada anggota Masyumi yang datang untuk mendengarkan ceramahnya di Kramat 45, Natsir menerangkan bahwa jasa Chouri bagi perjuangan bangsa Indonesia di luar negeri sangat besar.
“Dialah yang mengetuk pintu Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-bangsa sehingga memungkinkan Sutan Sjahrir berpidato di sana. Berkat kerja keras Chouri, suara Indonesia bergema di ruang sidang Dewan Keamanan PBB,” tutur Natsir.

Masih ada lagi jasa Chouri, kali ini untuk kaum Muslimin.

Sebagai anggota parlemen Suriah, di dalam perdebatan mengenai undang-undang yang menyangkut hukum waris, Chouri –penganut Kristen yang taat– tanpa ragu mendukung hukum waris sesuai dengan ketentuan yang telah termaktub dalam al-Quran. “Dan, berhasil,” kata Natsir.
Setelah selesai dengan tugasnya memimpin Muktamar Alam Islami, Natsir mewujudkan niatnya: berkunjung ke rumah Sayid Al-Chouri di sebuah desa sunyi nun jauh di luar kota Damaskus.
Untuk menghormati seorang yang telah berjasa besar terhadap perjuangan kemerdekaan Indonesia, jarak 100 kilometer dari Damaskus, bagi Natsir tidak berarti apa-apa.[]

Bagikan Ini :