Waketum Gerindra, Arief Poyuono/Net

telusur.co.id – Nilai tukar rupiah yang semakin tidak ancur terhadap dolar Amerika Serikat jelas akan sangat berdampak pada barang kebutuhan.

Begitu disampaikan Wakil Ketua DPP Partai Gerindra, Arief Poyuono dalam keterangan kepada redaksi, Selasa (9/10/18).

Disampaikan Arief, dari sisi rumah tangga, akan ada kenaikan harga-harga barang, terutama komoditas-komoditas impor.

“Kita lihat beberapa hari kebelakang ini contohnya terigu, tempe ,tahu, telur ayam , daging ayam dan sapi, susu anak-anak sudah naik,” kata Arief.

Dari sisi keuangan Negara, yaitu utang Luar Negeri yang dicetak Joko Widodo alam denominasi dolar makin numpuk dan nggak tahu sampai kapan bisa lunas.

“Harga energi seperti gas ,BBM dan listrik makin naik tinggi,” kata dia.

Soal impor beras gula dan lain-lain, kata dia, pasti akan mengalami kenaikan harganya. Padahal harga di Luar Negeri murah, namun para mafia impor gula dan beras yang dapet kuota impor dari Menteri Perdagangan, pastinya akan ambil untung gedean-gedean. Maklum, lanjutnya, mereka harus setor untuk biaya kampanye.

Sedangkan dari sisi pelaku usaha, sebagian besar barang-barang ekspor andalan, bahan baku dan barang modal impornya, akan ada kenaikan ongkos karena nilai tukar rupiah melemah.

“Satu contoh misalkan tekstil kurang lebih 70 persen bahan bakunya impor tekstil. Kemudian farmasi mungkin sekitar 80 persen juga bahan bakunya di impor. Otomatis kalau impor, akan naik ongkosnya karena nilai tukar kita melemah,” kata Arief.

Bukan hanya itu, akibat rupiah melemah bisa juga berdampak pada ancaman PHK Buruh. Itu terjadi karena beban produksi yang berat akibat bahan baku impor mahal sehingga harus ada PHK karena disisi lain penjualan produk menurun.

“Kalau sudah begini dan kalau bapak, ibu, saudara merasa terganggu ekonomi keluarganya, apa kita masih perlu Joko Widodo dilanjutkan? Silakan memilih dengan cerdas jangan lihat penampakan dan kulitnya saja,” kata Arief.

Sebelumnya, nilai tukar dolar AS terhadap rupiah pada sore ini kian menunjukkan penguatan. Per pukul 15.10 WIB, kurs dolar AS berada di Rp 15.299 di perdagangan pasar spot.

Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengatakan nilai dolar AS ini akan terus bergerak ke satu titik ekuilibrium baru seiring langkah The Fed yang akan menaikkan suku bunganya beberapa kali di tahun depan.

Nilai dolar AS yang hampir menyentuh Rp 15.300 ini juga dipicu data perekonomian negeri Paman Sam sendiri yang terus membaik dan perkembangannya sangat cepat, khususnya kenaikan imbal balik (yield) pada obligasi 10 tahun yang bunga sudah 3,4 persen.

“Kan hari ini kalau kita lihat data di AS yang dipicu oleh yield 10 tahun bond AS yang meningkat luar biasa tajam sudah di atas 3,4 persen, ini unpresedented selama ini, jadi kita melihat dinamika ekonomi AS itu masih sangat mendominasi dan pergerakannya cepat sekali,” kata Sri, di Bali, Senin (8/10/18). [ipk]

Bagikan Ini :