Net

telusur.co.id- Alasan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) membatalkan menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM) jenis premium, karena atas perintah dari Presiden Joko Widodo. Hal itu berdasarkan aspirasi rakyat yang disampaikan langsung kepada Jokowi.

Demikian disampaikan oleh Staf Khusus Presiden Ahmad Erani Yustika dalam keterangan persnya, Kamis (11/10/18).

“Presiden selalu menghendaki adanya kecermatan di dalam mengambil keputusan, termasuk juga menyerap aspirasi publik. Dalam soal kebijakan harga BBM,” kata Erani.

Erani menuturkan, mantan Gubernur DKI Jakarta itu mempertimbangkan tiga hal sebelum dinaikkannya harga premium. Pertama, meminta Kementerian ESDM menghitung secara cermat dinamika harga minyak internasional, termasuk neraca migas secara keseluruhan.

“Kedua, Kemenkeu diminta menganalisis kondisi fiskal secara keseluruhan agar tiap kebijakan yang dikeluarkan, termasuk harga BBM, tetap dalam koridor menjaga kesehatan fiskal,” terang Erani.

Sedangkan ketiga, lanjut Erani, menyampaikan bahwa Ia ingin memastikan daya beli masyarakat tetap menjadi prioritas dari setiap kebijakan yang diambil.

“Demikian pula fundamental ekonomi tetap dijaga agar ekonomi tetap bugar,” tandasnya.

Seperti diwartakan, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menunda kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) jenis Premium. Padahal, pemerintah baru saja mengumumkan harga Premium naik 7 persen menjadi Rp7.000 per liter.

“Ditunda, Kita akan evaluasi lagi,” kata Kepala Biro Komunikasi, Layanan Informasi Publik dan Kerja Sama Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Agung Pribadi.

Sayangnya Agung tidak bisa memastikan kapan harga baru Premium yang sebesar Rp7.000 ini akan diterapkan.

“Belum tahu kapan, dilihat kesiapan Pertamina, perhitungan dari kenaikan harga minyak,” tukasnya.[far]

Bagikan Ini :