Wakil Ketua Umum Partai Gerindra Arief Poyuono/telusur.co.id

telusur.co.id – Wakil Ketua Umum Partai Gerindra, Arief Poyuono menyindir pemerintah Joko Widodo yang dinilai plin plan dalam mengambil kebijakan kenaikan bahan bakar minyak (BBM) jenis premium.

Pada Rabu (10/10/18) kemarin, pemerintah membatalkan rencana kenaikan harga bahan bahan bakar minyak (BBM) jenis Premium menjadi Rp 7.000 per liter dari sebelumnya Rp 6.550 per liter.

“Padahal katanya ekonomi bagus, daya beli masyarakat bagus, pendapatan masyarakat baik, kenapa gak berani naikin harga BBM?” kata Arief di Komplek Parlemen Senayan, Jakarta, Kamis (11/10/18).

Pertanyaannya sekarang, kata Arief, sampai kapan pemerintah akan menahan kenaikan tersebut. Sementara kalau ditahan terus, mejurut dia, minyak dunia bisa meluncur sampai 100 USD per barel.

“Artinya ya ngomong aja jujur Pak Jokowi kepada rakyat bahwasanya ekonomi kita sedang tidak baik,” tuturnya.

Belum lagi, lanjut dia, pemerintah selalu mengklaim ekonomi Indonesia baik-baik saja, meskipun nilai tukar rupiah melemah.

“Dibilang ekonominya baik-baik saja karena inflasinya terjaga, pertumbuhan ekonominya 5,27 di kwartal kedua. Nah sekarang kalau BBM naik, apa nggak pengaruh sama nilai inflasi? Inflasinya kan jadi liar,” tambahnya.

Dia menegaskan, saat ini Indonesia adalah negara importir. Artinya, ketika harga minyak dunia naik, harga BBM di dalam negeri juga mau tak mau naik.

“Sekarang persoalannya adalah kegagalan Pak Jokowi selama 4 tahun pemerintahannya untuk mencari sumber minyak baru untuk menaikan lifting minyak kita. Dengan naiknya lifting minyak kita, kan ketergantungan kita pada impor minyak akan turun. Nah itu tugas Prabowo lah nanti di 2019-2024,” pungkasnya.[far]

Bagikan Ini :