Anggota Komisi XI DPR dari Fraksi Gerindra, Heri Gunawan/Foto: net

telusur.co.id – Pidato Presiden Joko Widodo di forum IMF-World Bank Annual Meeting Bali mengangkat analogi ‘Game of Throne’ sebagai refleksi atas perang dagang negara-negara besar. Atas pidatonya tersebut, IMF menyampaikan banyak pujian atas pidato tersebut.

Anggota Komisi XI DPR RI yang membidangi keuangan dan perbankan, Heri Gunawan menilai, jika disimak, pidato Presiden Jokowi di forum IMF-World Bank Annual Meeting, yang menuai banyak pujian tersebut, justru menunjukan sikap suatu negara yang tak memiliki kepercayaan diri.

“Ada dua hal yang dapat menjelaskan hal tersebut,” kata Heri melalui keterangannya.

Pertama, kata dia, alih-alih optimisme, sebenarnya pidato Presiden Jokowi di forum IMF, menyiratkan kecemasan yang akut atas situasi ekonomi global. Pidato tersebut menurutnya justru menunjukan Indonesia tak percaya diri dengan jalan kebijakan ekonominya.

“Meskipun pemerintah sempat menampilkan drama ‘Rupiah baik- baik saja’, tapi drama tersebut terpaksa dihentikan. Karena memang kenyataan di mana rupiah semakin terdepresiasi, tidak dapat ditutup-tutupi lagi. Sehingga, pidato Presiden tersebut cermin dari mental pemimpin yang inferior atau bermutu rendah,” ujarnya.

Politisi Partai Gerindra ini memandang, karena kepercayaan diri pemerintah terus terkikis, akhirnya hal ini tercermin dalam pidato di forum IMF yang meminta agar negara-negara besar paham dan mengerti terhadap situasi yang dihadapi negara-negara berkembang.

Kedua, kata Heri  semestinya karena Indonesia menjadi tuan rumah, kritik terhadap IMF yang pernah disampaikan Presiden Jokowi di 2015, dapat disampaikan langsung dalam forum tersebut. Isu ketidakadilan global, ketimpangan, serta kritikannya ats dominasi negara-negara besar dalam arsitek keuangan global, mestinya kembali disuarakan.

“Indonesia dapat menjadikan forum itu untuk mendorong agenda reformasi peran IMF dan WB yang semakin tidak relevan di era baru ini. Juga mendorong agar emerging markets diberikan porsi yang lebih luas dan strategis dalam organisasi IMF dan WB,” urainya.

Perihal Jokowi mengutip isilah ‘winter is coming’, ia mengatakan anologi dari adanya musuh besar yang akan datang memporak-porandakan ekonomi negara, sebenarnya bukan sesuatu yang baru apalagi mengejutkan.

Dalam konteks Indonesia, Heri menambahkan,  Prabowo Subianto sudah mengingatkan jika masa-masa kelam akan datang jika kita tidak bersiap.

“Itu yang disiratkan Pak Prabowo dalam pidato 2030 Indonesia bubar, yang dikecam habis-habisan oleh pemerintah. Jadi, jika Jokowi saat ini baru menyampaikan kecemasan tersebut, Pak Prabowo sudah jauh sebelumnya. Yang membedakan keduanya adalah; jika Pak Prabowo gemar membaca buku sehingga merujuk pada buku, kalau Pak Jokowi merujuk kepada film,” paparnya. (ham)

Bagikan Ini :