FOTO: Dok. Kemenkop

telusur.co.id- Kemajuan teknologi digital dianggap membawa perubahan besar bagi ekonomi Indonesia, khususnya bagi perkembangan Koperasi dan UKM. Namun, yang menjadi perhatian, generasi milenial dinilai masih enggan menyentuh sektor bisnis Koperasi.

Hal ini disampaikan Pelaksana tugas (Plt) Deputi Bidang SDM Kementerian Koperasi dan UKM, Rulli Nuryanto dalam acara Forum Tematik Bakohumas ‘Koperasi Milenial Mendorong Perekonomian Masyarakat Melalui ICT’ di Bandung,  Jawa Barat, Kamis (18/10/18).

Dijelaskan Rulli, pada 2020  mendatang, Indonesia akan mengalami bonus demografi, yaitu kondisi penduduk yang sebagian besar akan diisi oleh generasi muda atau usia produktif. Hal ini menurutnya harus menjadi perhatian bagi semua pihak, khususnya pemerintah.

“Maka untuk memanfaatkan bonus demografi ini, kita juga harus menyiapkan cukup lapangan buat mereka untuk berkreasi, dan menggali potensi yang ada di dirinya. Karena kalau generasi muda yang banyak ini tidak diberikan ruang, tentu akan ada dampak negatifnya. Kedua, kalau kita bicara bonus demografi saat ini, kita juga harus siap kedepannya, yang usia-usia produktif ini kedepan akan menjadi usia-usia tidak produktif,” papar Rulli.

Dalam upaya menggalakkan Koperasi di kalangan milenial, Rulli mengatakan, Koperasi Milenial seharusnya diisi oleh anak-anak muda yang produktif dan kreatif. Namun hal ini justru menjadi salah satu permasalahan yang masih sulit diselesaikan, mengingat minimnya pemahaman mengenai Koperasi di kalangan milenial.

Padahal, menurut Rulli, secara pengembangan bisnis, Koperasi memiliki posisi yang sama dengan PT, yaitu dapat melakukan ekspor, dapat bergerak di bidang industri kreatif dan melakukan usaha-usaha yang sama seperti yang dilakukan PT.

“Koperasi juga memiliki nilai tambah, yaitu koperasi bisa memiliki PT, namun PT tidak bisa memiliki koperasi. Di dalam perusahaan, koperasi karyawan tidak dapat dinyatakan milik perusahaan, melainkan milik karyawan yang bekerja di perusahaan tersebut,” jelas Rulli.

Meski koperasi yang digarap oleh kalangan muda juga sudah ada di universitas-universitas seperti koperasi mahasiswa, namun menurut Rulli, koperasi mahasiswa lebih kepada pembelajaran semata.

“Yang kita inginkan, koperasi berkembang seperti perusahaan dengan badan usaha lain. Bisa kok koperasi. Seperti kita lihat ada Kospin Jasa yang sudah melantai di bursa efek Indonesia, koperasi karyawan Telkomsel, dan lain sebagainya,” ujar Rulli.[Ham]

 

 

Bagikan Ini :