Mahasiswa dan pemuda melakukan syukuran di Plaza Pemkab Bekasi. FOTO: telusur.co.id/Dudun Hamidullah

telusur.co.id– Masyarakat Kabupaten Bekasi memuji kerja keras Komisi Pemberantas Korupsi (KPK) yang berhasil melakukan operasi tangkap tangan (OTT) terhadap sembilan pejabat atas dugaan gratifikasi perizinan Meikarta.

Namun, pujian masyarakat justru dicibir oleh para kroni Bupati Bekasi, Neneng Hasanah Yasin. Mereka yang kini menjabat camat, sekretaris dinas hingga kepala dinas, mengaku prihatin atas apa yang dilakukan sejumlah elemen masyarakat.

“Kalau kami justru merasa kasihan kepada Ibu Bupati yang terkena OTT KPK, apalagi beliau sedang hamil,” kata salah satu pejabat Pemda Bekasi yang enggan disebut namanya, Jumat (19/10/18).

Seperti diketahui, sehari setelah Bupati Bekasi Neneng Hasanah Yasin ditetapkan tersangka oleh KPK, sejumlah elemen masyarakat terdiri atas mahasiswa dan pemuda melakukan syukuran di Plaza Pemkab Bekasi.

Selain itu, para guru honorer juga mensyukuri penangkapan Bupati Bekasi Neneng Hasana Yasin oleh KPK. Mereka menganggap itu sebagai doa para guru honorer yang dikabulkan setelah mereka dizalimi Pemerintah Kabupaten.

“Kami merasa dizalimi saat itu. Mungkin ini doa guru sampai seperti ini, karena beberapa pekan lalu kami sempat demo soal kenaikan gaji dan kejelasan status, tapi dibiarkan begitu saja sampai kita nginap, banyak yang pingsan,” kata koordinator Forum Guru Honorer Indonesia Kabupaten Bekasi, Suryanto.

Suryanto mengakui, rasa senang ada tapi bukan secara personal atas penangkapan Bupati Bekasi, melainkan pengungkapan kasus dugaan korupsi. Dia berharap penangkapan itu dapat mengungkap banyak kasus korupsi di pemerintahan, agar Kabupaten Bekasi lebih baik.

Meski begitu, Suryanto menegaskan tetap mendukung arah pembangunan Pemerintah Kabupaten Bekasi. Penangkapan dan penyegelan di ruang kerja dinas, katanya, jangan sampai mengganggu pelayanan publik.

Hal senada dikatakan seorang guru honorer di Kabupaten Bekasi, Ipeg Nuryati. Menurut dia, Bupati Bekasi seperti tidak memiliki rasa kemanusiaan. Sebab saat para guru berunjuk rasa tidak ada tanggapan sekali. “Diminta naikkan gaji, katanya mikir dulu, karena anggarannya belum ada,” ujarnya.[far]

Bagikan Ini :