Diskusi bertajuk "Dollar Menguat, Benarkah Indonesia Menuju Krisis?", di kawasan Jakarta Selatan, Sabtu (20/10/18). FOTO: telusur.co.id/ Fahri Haidar

telusur.co.id- Kebijakan ekonomi yang dikeluarkan oleh pemerintahan Joko Widodo (Jokowi) belum efektif untuk menahan laju pelemahan nilai tukar rupiah.

Hal itu dikatakan Juru Bicara Badan Pemenangan Nasional Prabowo-Sandi, Handi Risza Idris dalam diskus di kawasan Jakarta Selatan, Sabtu (20/10/18).

Salah satu kebijakan yang dikritik Handi adalah kenaikan tarif PPh impor 1.147 barang konsumsi. Dia menilai, kebijakan tersebut hanya menyasar barang-barang yang memiliki nilai kecil.

“Jika ditotal nilainya hanya mencapai 10 persen dari total impor. Oleh karena itu, nilainya tidak terlalu signifikan untuk menekan jumlah impor,” kata Handi.

Menurut Handi, seharusnya kebijakan kenaikan tarif tersebut juga menyasar pada komoditas impor yang menyumbang porsi cukup besar dari total impor Indonesia.

“Kenapa bukan impor baja yang dikurangi atau dinaikkan tarifnya. Padahal bahan itu berpengaruh besar terhadap neraca,” ujarnya.

Dia mengungkapkan, apabila pemerintah mengambil langkah tersebut, dan ditambah peningkatan ekspor, maka dapat membantu perekonomian terutama menekan defisit neraca perdagangan dan menahan pelemahan rupiah.

“Pemerintah belum efektif untuk menahan laju pelemahan Rupiah. Perlu langkah berani dari pemerintahan Presiden Jokowi,” pungkasnya.[tp]

Bagikan Ini :