Rizal Ramli dalam Diskusi Dialektika" Polemik Impor Beras" di Press Room DPR RI/telusur.co.id

telusur.co.id – Ekonom senior Rizal Ramli mendatangi markas Komisi Pemberantasan Korupsi. Kehadirannya untuk melaporkan dugaan korupsi terkait impor pangan.

Namun dirinya tidak menyebutkan nama yang dilaporkan ke KPK. Ia menyerahkan hal itu pada lembaga anti korupsi itu.

“Nanti tugas KPK untuk menelusuri, dari kementerian mana. Kita sudah bicara,” kata Rizal kepada wartawan, di gedung Merah Putih KPK, Kuningan, Jakarta Selatan, Selasa (23/10/18).

Dikatakan Rizal, dugaan adanya korupsi tersebut bersumber pada jumlah impor yang dilebih-lebihkan.

Rizal mengatakan, kelebihan pada impor garam mencapai 1,5 juta ton, sementara impor gula sebesar 1,2 juta ton. Kemudian, impor beras yang menurutnya dilebihkan sebesar Rp 1 juta ton. Berdasarkan perkiraan dirinya, kerugian akibat modus itu mencapai Rp 24 triliun.

Untuk melengkapi laporannya, Rizal menyerahkan bukti berupa laporan audit Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) terkait Perencanaan, Pelaksanaan, dan Pengawasan Tata Niaga Impor Tahun 2015 hingga Semester I Tahun 2017.

BPK

Berdasarkan Audit tentang Tata Niaga Impor tahun 2015 hingga semester I 2017 oleh BPK, yang data auditnya dimiliki telusur.co.id, dalam dokumen audit, dimana setiap lembarnya tertera tanda tangan yang jelas dari pejabat berwenang, BPK menemukan kesalahan kebijakan impor, mulai dari beras, gula, garam, dan daging sapi.

Selain itu, ada permasalahan yang lain, pertama, impor tidak diputuskan di rapat tertinggi di Kemenko Perekonomian. Ini terjadi pada impor gula kristal putih 1,69 juta ton untuk swasta, impor 50 ribu ekor sapi buat Bulog, impor daging sapi 97.100 ton pada 2016, impor 70.100 ton, dan 17 ribu ton daging sapi kepada PT. Impexindo Pratama.

Kedua, impor tanpa persetujuan kementerian teknis: Kementerian Pertanian. Ini terjadi pada impor gula kristal mentah 108 ribu ton kepada PT. Adikarya Gemilang, impor beras kukus 200 ton oleh Bulog, impor daging sapi 97.100 ton pada 2016, impor daging sapi 17 ribu ton kepada PT. Impexindo Pratama, dan impor daging sapi 10 ribu ton kepada Bulog.

Ketiga, impor tak didukung data kebutuhan dan persyaratan dokumen. Ini terjadi pada impor gula kristal mentah 108 ribu ton kepada PT. Adikarya Gemilang, impor beras 70.195 ton, impor sapi 9.370 ekor, impor daging sapi 86.567,01 ton pada 2016, impor daging sapi 70.100 ton, dan impor garam 3,35 juta ton.

Keempat, pemasukan impor melebihi dari tenggat yang ditentukan. Ini terjadi pada impor beras 70.195 ton.

Masih dalam audit, BPK menyimpulkan Kemendag tidak memiliki mekanisme untuk memantau realisasi impor: apakah impor melebihi atau kurang dari persetujuan, apa laporan importir terlambat atau importir tidak melaporkan impor?

“Penerbitan Persetujuan Impor Tahun 2015 s.d. Semester I Tahun 2017 Tidak Sesuai
dengan Data Kebutuhan dan Produksi Dalam Negeri,” demikian isi audit BPK, sebagaimana tertera pada BAB IV poin 4.1. [ipk]

Bagikan Ini :