telusur.co.id – Ketua DPR RI Bambang Soesatyo meluncurkan buku biografinya ‘Dari Wartawan ke Senayan’. Buku setebal 280 halaman ini mengungkapkan perjalanan hidup hingga karir Bamsoet yang ditulis oleh tim yang juga rekan-rekan sesama wartawan di Harian Prioritas tahun 1986-1987.

“Kehadiran buku ini tidak lain sebagai catatan perjalan hidup saya. Supaya kelak bisa diketahui oleh anak dan cucu. Syukur-syukur bisa menjadi tambahan bacaan dan memberikan inspirasi bagi publik. Seperti kata pepatah, Apa yang tertulis akan abadi, Apa yang diucapkan akan tertiup oleh angin,” ujar Bamsoet saat meluncurkan bukunya di Komplek Parleman, Senayan, Jakarta, Kamis, (25/10/18).

Sejumlah tokoh dan wartawan senior tampak hadir dalam acara tersebut. Antara lain, Surya Paloh (Ketua Umum Nasdem), Irjen Setyo Wasisto (Kadiv Humas Polri), Melchias Mekeng (Ketua Fraksi Partai Golkar DPR RI), Taufiqulhadi (Anggota Fraksi Nasdem DPR RI), Roemkono (Anggota Fraksi Golkar DPR RI), Robert Kardinal (Anggota Fraksi Partai Golkar DPR RI), Masinton Pasaribu (Anggota Fraksi Partai Golkar DPR RI), Ahmad Sahroni (Anggota Fraksi Partai Golkar DPR RI), Derek Manangka, Elman Saragih, Panda Nababan, Noorca Massardi, Wina Armada, Aristides Katoppo, serta sejumlah kerabat dan kolega lainnya.

Politisi Partai Golkar ini menjelaskan, dirinya memilih karir kewartawanan karena semasa kuliah senang berorganisiasi dan aktif di pers kampus. Profesi dan karakter kerja wartawan otomatis mengharuskan dirinya cakap berinteraksi dengan berbagai kalangan.

“Buku ini bercerita secara simpel, lugas dan mengena tentang lika-liku perjalanan karir saya sejak jadi wartawan pada 1986, lanjut berbisnis dan berpolitik lewat Partai Golkar. Hingga masuk parlemen sejak 2009 dan akhirnya diberi kepercayaan sebagai Ketua DPR RI, sebuah amanah yang tak pernah saya bayangkan sebelumnya,” terangnya.

Mantan Ketua Komisi III DPR RI ini juga menjelaskan, buku ‘Dari Wartawan ke Senayan’ merupakan buku ke-14 miliknya. Walaupun tidak langsung ditulis oleh dirinya, namun bisa mengungkap dengan jelas dan lugas pikiran Bamsoet sebagai seorang wartawan yang dulu bukan siapa-siapa hingga menjadi orang nomor satu di Senayan.

Tak heran jika pada kesempatan tersebut, legislator Dapil Jawa Tengah VII yang meliputi Kabupaten Purbalingga, Banjarnegara dan Kebumen ini mengajak para tokoh, pimpinan dan anggota DPR, MPR dan DPD serta siapapun untuk membiasakan menulis mengenai berbagai hal.  Baik mengenai perjalanan hidup, pandangan, pemikiran, kiprah ataupun pengabdian, sesuai dengan profesi masing-masing.

“Siapa tahu disana ada mutiara dan hikmah yang dapat dipetik untuk jadi pelajaran bagi orang lain maupun sebagai sumbangsih bagi bangsa dan negara. Seperti kata Imam Al-Ghazali, menulislah maka anda akan hidup selamanya,” pungkas Bamsoet.

Wakil Ketua Umum KADIN ini menjelaskan, penulisan buku ‘Dari Wartawan ke Senayan’ awalnya diinisiasi oleh Derek Manangka, mentor jurnalistik pertama saat Bamsoet memulai karir wartawan di Harian Prioritas pada tahun 1986. Namun, penulisan buku sempat tertunda lantaran Derek meninggal pada 26 Mei 2018. Penulisan kemudian dilanjutkan oleh tim yang terdiri dari Wina Armada, Nano Bramono, Heru Subroto, dan Bobby Barata.

Tim penggarap bekerja inten dan kooperatif sejak awal dalam pengayaan data, foto dan testimoni dari 41 nara sumber kunci. Bahkan delapan tokoh bangsa memberikan kesaksiannya atas perjalanan hidup Bamsoet.

“Kesan pertama saya terhadap Bamsoet, kalau mengkritik pedas sekali. Tapi saya tahu beliau adalah orang yang konsisten dan apa adanya. Perjalanannya yang berliku dan keras sebagai wartawan dan jiwa kewirausahaannya yang kuat saat menjadi pengusaha, telah membetuk kematangan jiwa dan pikirannya dalam berpolitik,” ujar Presiden Joko Widodo.

Wakil Presiden Jusuf Kalla juga tak ketinggalan memberikan komentar. Baginya, sebagai wartawan yang menjadi Ketua DPR RI, Bamsoet mempunyai informasi dan hubungan yang baik dengan banyak kalangan. Karena itu, Bamsoet bisa mengemban amanah ini dengan lebih baik, adil dan independen.

Sedangkan menurut Kepala Badan Intelijen Negara Budi Gunawan, sejak dipimpin Bamsoet, DPR-RI lebih terbuka dan kondusif. Tidak ada lagi kegaduhan yang berarti. Tidak mudah menyatukan pandangan 560 politisi dari 10 partai politik dengan latar belakang beragam. Itulah kepiawaian Bamsoet.[far]

Bagikan Ini :