Keterangan Gambar: Pembangunan gedung-gedung apartemen di kawasan Meikarta, Cikarang, Kabupaten Bekasi, menyalahi aturan dan tak sesuai tata ruang Kabupaten Bekasi.

telusur.co.id – Pembangunan Central Business District atau CBD Meikarta rupanya tidak sesuai dengan Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten Bekasi.

Namun, anehnya, pembangunan properti tersebut terus berjalan. Bahkan, dua dari empat menara telah diserahterimakan kepada pembeli meski bangunan belum selesai.

Pantauan telusur.co.id, Kamis (25/10/18), menunjukan pembangunan CBD Meikarta terus berlangsung. Sejumlah pekerja terlihat sedang membangun di sejumlah titik, mulai dari akses masuk, taman, hingga di dalam gedung.

CBD Meikarta berlokasi di Desa Cibatu, Kecamatan Cikarang Selatan, Kabupaten Bekasi, tepatnya di samping gerbang tol Cibatu. CBD Meikarta terdiri atas 4 menara serta 1 pusat perbelanjaan yang diubah menjadi Marketing Gallery Meikarta.

Semula, properti ini bernama Orange County. Namun, belakangan diklaim sebagai bagian dari Meikarta yang kemudian pada saat pemasangan atap (topping off), disaksikan langsung Menteri Koordinator Kemaritiman, Luhut Binsar Pandjaitan, Oktober 2017 lalu.

Ditinjau dari peta pada Peraturan Daerah Nomor 12 Tahun 2011 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten Bekasi tahun 2011-2031, lokasi yang ditempati CBD Meikarta rupanya bukan untuk permukiman. Lokasi tersebut merupakan zona abu-abu yang diperuntukkan bagi industri.

Kepala Seksi Tata Ruang Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Kabupaten Bekasi Evi Mutia mengatakan, rekomendasi yang diberikan untuk pembangunan Meikarta yakni seluas 84,3 hektare. Namun, luasan tersebut tidak termasuk CBD Meikarta.

Soalnya, sejak awal dibangun, CBD Meikarta bernama Orange County dan bukan termasuk Meikarta.

“Sebenarnya kalau 84,3 hektare itu sudah tidak ada masalah karena dari Pemprov Jabar juga sudah mengeluarkan rekomendasi. Sementara itu, untuk lahan yang lainnya bertentangan dengan RTRW,” ujarnya.

Namun, Kepala Bidang Perizinan dan Penanaman Modal pada Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu Kabupaten Bekasi, Muhammad Said, menampik CBD Meikarta berada di zona industri.

Menurut dia, properti tersebut berlokasi di atas zona kuning yang diperuntukkan bagi permukiman.

Said menegaskan, pihaknya tidak akan mengeluarkan izin bila tidak sesuai dengan aturan. “Ah, salah lihat kali (bukan zona abu-abu). Kami tak akan mengeluarkan izin kalau itu tidak sesuai peruntukannya. (Untuk perizinan) tentu harus sesuai RTRW dan warnanya kuning (untuk permukiman), bukan abu-abu,” tukasnya.

Menurut Said, kalaupun kawasan itu benar berada di zona abu-abu, itu merupakan bentuk kenakalan pengembang. “Yang pasti, kami tak mengeluarkan izin apa pun terhadap yang tidak sesuai (tata ruang),” ucapnya.

Direktur Informasi Publik Lippo Group, Danang Kemayan Jati, juga mengatakan tak ada yang salah dengan CBD Meikarta. Karena lokasinya strategis, disebutlah CBD Meikarta.

“Meikarta fase pertama 84,6 hektare itu masuk area komersial dan hunian. Fase kedua, 278 hektare itu masuk hi tech industry, 55 persennya untuk area supporting komersial, hunian, dan lain-lain yang mendukung industri. Meikarta itu bagian yang tidak terpisahkan dari Lippo,” ucapnya.[far]

Bagikan Ini :