Keterangan Gambar: Sudah 22 tahun Sungai Cilamaya menghitam dan bau menyengat. Warga meminta Gubernur Jabar Ridwan Kamil turun tangan/telusur.co.id.

telusur.co.id – Air Sungai Cilamaya dan Bendungan Barugbug yang terletak di Kecamatan Jatisari, Kabupaten Karawang kembali menghitam dan berbau. Kondisi tersebut membuat masyarakat sekitar bendungan mengalami mual dan pusing-pusing.

“Bau busuk yang berasal dari air bendungan sangat menyengat. Kami merasa mual dan pusing-pusing karena terus menerus harus menghirup udara tak sehat itu,” ujar Agus, warga Desa Situ Dam, Kecamatan Jatisari, yang rumahnya tidak jauh dari bendungan tersebut, Kamis (25/10/18).

Menurutnya, perubahan warna dan penurunan kualitas air bendungan terjadi sejak Selasa 23 Oktober 2018 malam. Bahkan hingga Kamis, warna air bendungan masih berwarna hitam dan berbuih banyak.

“Saat tercium aroma tak sedap menyergap hidung, kami sudah bisa memastikan air bendungan kembali tercemar limbah industri. Kami sudah mengalami hal ini puluhan tahun,” katanya.

Warga Karawang berharap Gubernur Jawa Barat ( Jabar), Ridwan Kamil dapat menyelesaikan masalah Sungai Cilamaya yang menghitam dan mengeluarkan bau busuk sejak 22 tahun lalu.

Bendi Sukarya, salah seorang warga Desa Situ Dam, berharap Ridwan Kamil menyelesaikan permasalah warga di sepanjang bantaran Sungai Cilamaya. “Harapan kami gubernur menyelesaikan masalah ini. Bila perlu datang langsung untuk melihat langsung kondisi Sungai Cilamaya,” ujarnya.

Sementara itu, sejumlah aktivis yang tegabung dalam Lembaga Penanggulangan Bencana dan Perubahan Iklim Nahdlatul Ulama (LPBI NU), mengaku geram melihat air Bendungan Barugbug dan Sungai Cilamaya yang kembali tercemar limbah. Mereka meyakini sejumlah pabrik di kawasan hulu Sungai Cilamaya kembali membuang limbah cairnya tanpa diolah terlebih dahulu.

Dian Nugraha dari LPBI NU, mengungkapkan kecurangan kalangan industri di hulu Sungai Cilamaya sudah dilakukan selama 22 tahun. Mereka sengaja membuang limbah cairnya ketika hulu Sungai Cilamaya diguyur hujan.

“Saat hujan turun, mereka langsung menggelontorkan limbah ke aliran Cilamaya dengan harapan air limbah tercampur air hujan,” kata Dian.

Pada Selasa malam wilayah hulu Sungai Cilamaya memang diguyur hujan, dan dia menilai hal itu kembali dimanfaatkan kalangan industri nakal. “Ini buktinya, air bendungan kembali hitam dan berbau,” ucap Dian kesal.

Dalam kesempatan itu, Dian juga mengungkapkan kekesalannya kepada pihak Dinas Lingungan Hidup Provinsi Jabar dan DLHK Subang yang saling melempar tanggung jawab dalam hal tersebut.

“Masyarakat Karawang ini kebagian sialnya. Pabrik pembuang limbah ada di Subang dan Purwakarta. Tapi yang merasakan dampak buruknya, warga Karawang,” cetusnya.

Ia mengatakan, LPBI NU telah melaporkan pencemaran air ke DLH Provinsi. Menurutnya, yang harus menindak perusahaan nakal adalah DLHK Subang atau Purwakarta karena lokasi pabrik ada di wilayah kerja mereka.

Dia pun menyesalkan tanggapan DLHK Subang dan Purwakarta yang malah menyerahkan hal itu ke Provinsi.

“Kami berharap DLHK Karawang ikut bergerak dalam masalah ini. Sebab yang menderita adalah masyarakat Karawang,” imbuhnya.

Ketua Komisi C Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Karawang Elivia Khrissiana mengatakan, pencemaran Sungai Cilamaya dan Bendungan Barugbug tidak pernah ditangani secara serius. Akibatnya, pencemaran limbah B3 itu terus berlangsung hingga belasan tahun.

“Ini harus diselesaikan secara tuntas, karena dampaknya langsung ke masyarakat Karawang,” katanya.

Elivia menyebut tidak sedikit warga yang menderita gatal-gatal setelah terkena air sungai. Lahan pertanian juga tak luput dari imbas pencemaran tersebut.[far]

Bagikan Ini :