Pembakaran Bendera Kalimat Tauhid Oleh Oknum Banser/Net

telusur.co.id – Aksi pembakaran bendera bertuliskan kalimat tauhid yang dilakukan organisasi Banser pada saat perayaan hari santri, terus menuai polemik.

Bahkan, akibat dari aksi Banser itu, umat Islam di berbagai daerah menggelar aksi turun ke jalan untuk membela tauhid.

Lantas, apa hukumnya membakar bendera bekalimat tauhid?

Lafal Al Quran, asma Allah dan Nabi Muhammad SAW, hukumnya wajib dimuliakan. Benda apapun yang bertuliskan ayat-ayat Al Quran, asma allah dan Nabi SAW, tidak boleh dibawa ke tempat kotor.

Bahkan, bila ada ditempat yang tidak layak, atau mungkin terjatuh di tanah, wajib mengangkatnya dan meletakkan di tempat yang tinggi sekiranya tidak sejajar dengan posisi kaki.

Maka dari itu, ulama Syafiiyah menghukumi makruh menulis kalimat Al Quran, kalimat tauhid dan lainnya pada benda yang sekiranya sulit menjaga kemulian kalimat-kalimat tersebut.

Misalnya, menulis nama Allah pada bendera, undangan, baju, celana, aksesoris seperti topi, gelang, cincin dan lainnya.

Ulama kharismatik Aceh, Tgk. H. Muhammad Amin Daud menyampaikan pandangannya terkait hukum membakar bendera yang bertuliskan kalimat thaiyyibah.

Abu Muhammad Amin yang merupakan Ketua Pengurus Pusat Majelis Pengajian Tasawuf, Tauhid dan Fiqh (Tastafi) Aceh mengatakan, pembakaran bendera bertulis kalimat syahadat, memiliki beberapa konsekuensi hukum dalam perspektif Islam.

Pertama, jika bendera bertuliskan kalimat tauhid itu dibakar karena marah pada kalimat tauhid dan dengan niat menghinanya, maka pelakunya itu dihukum murtad.

Kedua, lanjut ulama yang memimpin Dayah Raudhatul Ma’arif Aceh Utara ini, jika dibakar karena marah kepada perusak kesatuan, tanpa pertimbangan apa tulisannya langsung membakar, maka itu termasuk tidak menguasai kemarahan, yang dianggap manusia berakhlak buruk.

Hukumnya kalau membawa kepada kekacauan dan kemarahan publik itu sudah berdosa juga, tapi tidak sampai jadi murtad.

Ketiga, jika dibakar untuk tujuan menyelamatkan karena diduga (syak) bahwa kalimat tauhid yang tertulis di kain tersebut kalau tidak dibakar bisa terjadi penghinaan, seperti tercampak di tanah atau selokan, dan tidak ada yang memeliharanya dengan baik, maka hukum membakarnya itu adalah sunat.

Keempat, jika diyakini (dhan) yang kuat bahwa akan terjadi penghinaan kalau tidak dibakar, maka hukum membakarnya adalah wajib dengan niat menyelamatkan.

“Jadi semuanya sangat tergantung pada niat orang yang melakukannya,” kata dia.

Dirinya menjelaskan, jika bendera tauhid itu dibakar karena marah, sebab mirip dengan bendera organisasi yang telah dilarang pemerintah, maka itu termasuk dalam kategori tidak menguasai amarah.

“Itu adalah suatu sifat tercela,” katanya.

Kalau bisa menguasai marah, mereka dapat berpikir ini kemungkinan jebakan dari propaganda pihak tertentu. Tentu tindakannya tidak membakar, tetapi menangkap orang yang membawa benderanya untuk menyerahkan kepada pihak yang berwajib.

“Dengan membakar berarti mereka telah masuk jebakan dan sangat sulit untuk membela mereka jika benar-benar mereka terjebak.”

Apalagi, yang telihat dalam video ke seluruh dunia itu adalah kain hitam bertulisan kalimat tauhid yang dibakar itu tidak ada simbol lain dan list tertentu.

Sebelumnya, Kepolisian diminta mengusut tuntas pembakaran bendera bertuliskan kalimat tauhid, yang dibakar oleh Barisan Ansor Serbaguna (Banser).

Permintaan itu disampaikan Sekjen Majelis Ulama Indonesia (MUI) Anwar Abbas dalam jumpa pers di kantor MUI, Jalan Proklamasi, Menteng, Jakarta Pusat, Selasa (23/10/18).

Disampaikan Anwar, proses hukum harus dilakukan profesional. MUI, lanjutnya, mendorong dan mengimbau kepada semua pihak untuk menyerahkan masalah ini kepada proses hukum.

“Meminta kepada pihak kepolisian untuk bertindak cepat, adil dan profesional,” kata Anwar.

Sementara itu, menurut Waketum Zainut Tauhid Sa’adi dalam jumpa pers yang sama, mengatakan jika MUI berpandangan bendera yang dibakar bukan bendera Hizbut Tahrir Indonesia (HTI).

Sebab, tidak ada tulisan organisasi dalam bendera tersebut yang video pembakarannya viral di media sosial.

“Dalam perspektif MUI karena tidak ada tulisan Hizbut Tahrir Indonesia maka kita mengatakan kalimat tauhid,” kata dia.

Zainut menyampaikan hal tersebut sebagai tanggapan atas pengakuan pembakar bendera, yang mengaku membakar bendera HTI saat peringatan Hari Santri di Limbangan, Garut, Senin kemarin.

“Kita melihat yang dibakar itu adalah kalimat tauhid, tidak ada simbol Hizbut Tahrir,” kata Zainut. [ipk]

Bagikan Ini :