Maiyasyak Johan/Foto:istimewa

Oleh : Maiyasyak Johan

 

Hampir tak ada yang tak paham, tentang kemungkinan suatu peristiwa tidak berdiri sendiri dan tanpa tujuan, termasuk kemungkinan adanya campur tangan “asing” atau kekuatan global.

Karena itu bersikap bijak dan waspada adalah suatu keharusan. Namun demikian, sikap bijak, hati-hati dan waspada – tidak boleh mengurangi keharusan untuk menyatakan sikap dan memperjuangkan yang “hak” serta melakukan konsolidasi menjaga dan memeliharanya – terutama untuk menjaga momentum agar tidak ditelan oleh siasah orang-orang yang zholim.

Jendral Chiang Kai Sek dalam bukunya menulis, salah satu penyebab kekalahan Kaomintang melawan Komunis adalah karena setiap kali Kaomintang dalam posisi menang, kemenangan itu tidak pernah dituntaskan, melainkan dihentikan dengan “perundingan”. Dengan kata lain, Kaomintang, atau kubu Dr. Sun Yat Sen dan Jendral Chiang Kek Sek berusaha bijak – terutama agar tidak menelan korban rakyat banyak, lalu menerima usul perundingan dan gencatan senjata. Padahal bagi Mao Tse Tung itu hanya taktik mengulur waktu yang dilakukannya ber-ulang-ulang. Akibatnya, pihak Komunis Mao Tse Tung sebagai pihak yang kalah mendapat kesempatan melakukan konsolidasi sementara pihak Kaomintang kehilangan momentum – yang kemudian kalah dan terdesak ke Pulau Formasa (Taiwan sekarang).

Berbeda dengan Kaomintang, pihak Mao Tse Tung ketika berada dalam posisi menang mereka menuntaskan kemenangan yang mereka peroleh dengan melakukan pembersihan dengan pembantaian – sejarah mencatat puluhan juta rakyat cina yang menjadi korbannya.

Palestina, sekalipun tidak persis sama, prosesnya juga menghadapi taktik yang demikian. konflik lalu gencatan senjata lalu konflik lagi terus berulang – bukan untuk perdamaian dan pengukuhan hak yang berimbang antara Palestina dengan Israel, melainkan terus menerus merugikan posisi Palestina dan menguntungkan Israel.

Semua konvensi international dan resolusi PBB tak ada yang menolong Palestina, melainkan hanya menjadi tumpukan kertas yang tak pernah dilaksanakan dengan sungguh-sungguh, kecuali hanya retorika yang implementasinya tak pernah nyata karena keberpihakan secara diam-diam atau nyata kepada israel dari berbagai negara.

Perang dan konflik adalah bagian dari kehidupan dan politik umat manusia di dunia ini. Dan Sejarah secara empirik mengajarkan, bagaimana kita harus menghindari konflik dan menyikapi berbagai tindakan yang memprovokasi dengan bijak namun waspada atas sikap yang tidak pernah berpihak kepada kebenaran – terutama terhadap islam, baik ditingkat internasional. nasional mau pun lokal. Terutama karena Allah telah mengingatkan di dalam al-qur’an tentang ketidaksenangan dan kebencian orang-orang tidak ber-iman kepada Islam.

Secara demikian, maka bersikap bijak di atas sejarah agaknya adalah sebuah pilihan yang tak boleh tidak mesti dilakukan – agar kebenaran tidak lagi dihinakan dan kezholiman tidak lagi bersimaharajalela.

 

maiyasyak johan
advocate

Bagikan Ini :