Buku Satu IDI/Istimewa

BUKU dalam genggaman Anda adalah buku yang nyaris ambruk tak selesai. Karena perkelahiannya dengan waktu dan mencari alkisah, sebab patut dan alasan elok mengapa musti menuliskannya. Ditambah kegandrungan yang lumrah pada literasi yang terbit dari hati, dari the best of my heart. Kalau tagline kantor hukum saya ialah ‘Lawyering with Heart‘, maka ‘Writing with Heart‘ adalah derifatifnya.

Hanya sepotong dorongan Energi yang menggedor “pintu” ketabahan berliterasi saya, ditambah dengan tindakan bersama malam: berpeluk, berpeluh, bertungkus lumus dengan kata-kata dan frasa, dengan kalimat dan paragraf, yang akhirnya tiba pada paragraf akhir buku ini menjadi koloni 68 opini/tulisan.

Menyelesaikan buku yang nyaris tak selesai karena struktur “tulang belakang” naskah yang melengkung, beberapa tulang fraktur, dan soal klasik inflasi stamina yang membutuhkan pembangkit Energi. Rupanya semangat bangkit bisa menggiatkan sang “mitokondria” berhasil meletupkan Energi Kreatif yang menjadi faktor suksesnya tindakan “terapeutik intensif” pemulihan naskah buku sampai segar bugar pada genggaman pembaca. Saya belajar bahwa menulis buku perlu cukup bahan, gagasan, sebab, alasan, energi, dan waktu lapang namun mesra untuk kreatifitas menulis. Disamping itu memerlukan plot, alkisah dan momentum.

Buku ini menemukan latar alkisahnya sebagai reportase jejak-jejak Ikatan Dokter Indonesia (IDI) dalam mempertahankan pilihan sejarahnya yang tinggi adab dan cerdas sebagai Organisasi Profesi (bukan serikat pekerja). Pun IDI yang setia kepada ijtihat satu bersama kolegium dan perhimpunan dokter spesialis. IDI di tingkat pusat secara kolegial sebagai struktur kepemimpinan yang terdiri Pengurus Besar (PB) IDI dan Tiga Mejelis: Majelis Kolegium Kedokteran Indonesia (MKKI), Mejelis Kehormatan Etika Kedokteran (MKEK), dan Majelis Pengembangan Pelayanan Keprofesian (MPPK). Disain model struktur kepemimpinan ini diserap dalam pertimbangan MK, dan saya menyebutnya “Quarta Politica” IDI.

Buku ini bisa disebut sebagai jejak perjuangan melawan delegitimasi Satu IDI. Menolak kalah sebagai Organisasi Profesi. Bergerak melawan pemisahan kolegium kedokteran dari IDI, pun perceraian perhimpunan dokter dari IDI. Inilah jejak perjuangan Satu IDI yang kini memiliki konformitas dan justifikasi dari putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 10/PUU-XV/2017.

Buku ini mengusung Satu IDI dari pilihan peradaban tinggi yang cerdas (dan kini konstitusional), yang sumbernya dari “konstitusi” IDI (vide Pasal 9 Anggaran dasar IDI), dan UU 29/2004 Pasal 1 angka 12. Norma Satu IDI itu menjadi aturan tak berbatas yang mengikat sampai kapanpun keberadaan IDI, yang saya sebut Infinity Rules Satu IDI. Kalau esok-lusa ataupun belasan tahun matahari nanti, andaikan saya hendak mengubah Infinity Rules Satu IDI, berilah saya jawaban lugas: kembali kepada kaidah hukum yang diberikan MK sang pengawal konstitusi, jawaban yang dibimbing putusan MK Nomor 10 aquo. Berikan kepada saya jawaban: ‘Satu IDI Harga Mati!’

Kembali ke paragraf jejak perjuangan IDI. Karena rupanya literasi sejarah, pun demikian kemampuan (ability) bidang sains, teknologi, matematika ataupun kedokteran, membutuhkan alkisah untuk diceritakan. Bukankah ‘Canon of Medicine‘ dan ‘Tawanan Benteng Lapis Tujuh’ adalah alkisah “dokter dari dokter” Ibnu Sina, bukankah sumpah dokter adalah alkisah Hippokrates mengetuk pintu rumah orang yang sakit butuh penyembuhan? “…I will come for the benefit of the sick…”.

Begitulah buku ini hanya satu noktah ikhtiar menukilkan jejak perjuangan IDI mempertahankan Satu IDI, dengan segala ritme, lika liku, dan badainya. Istilah badai ini saya ambil dari Prof. Dr. Ilham Oetama Marsis, Sp. OG., Ketua Umum PB IDI masa bakti 2015-2018, yang berperan signifikan dalam jejak-jejak Satu IDI.

Bagaimana cara membaca sebuah buku? Idemditto membaca sejarah. Serupa dengan membaca novel. Membaca sejarah dari tokohnya. Menulis dan membaca novel dengan narasi tokohnya, begitu hantaran penerbit untuk novel ‘Kejahatan dan Hukuman’ karya Fyodor Dostoyevsky. Begitu penting tokoh alias pemimpin dalam sejarah, pun dalam perjalanan (termasuk penerbangan) dan pengembaraan.

Dalam perjalanan (harus) ada pemimpin. Yang menjaga pemilik jejak-jejak yang loyal bergerak menuju destinasi/tujuan. Tabah dengan perintah/bimbingan moral, etik, norma dan aturan yang diikut, karena kepemimpinan yang patut. Dalam regulasi penerbangan sipil dikenal norma universal Pilot in Command. Maknanya, tanggungjawab penerbangan pada kapten Pilot in Command (PIC) dengan otoritas tindakan pada/dalam pesawat: tutup pintu, taxing, menuju landasan pacu, take off, bahkan menurunkan penumpang dan tunda take off dan tak jadi landing. Wewenang PIC ini penuh sebagai Master After the God atau King After Closing the Door. Betapa pun biasa, lazim, ringkas dan dekatnya penerbangan, norma universal tak mengizinkan terbang tanpa PIC. Begitulah dalam profesi kedokteran mengenal frasa Captain of the Team.

Sebagai orang yang menyukai apresiasi daripada depresiasi, yang memilih bersyukur daripada mengeluh, saya merasakan betapa jejak-jejak advokasi Satu IDI ini mengandung pelajaran ikhwal kepemimpinan: lugas Pilot In Command, dan tak kompromi jaga kompetensi. Kemampuan dan kepemimpinan membutuhkan kisah untuk diceritakan, sebagai medium memanen jamak hikmah.

Buku ini tersusun dengan plot sederhana jejak kesibukan pra judicial review, saat judical review dan pelajaran paska judicial review. Yang sengaja disusun dalam 68 opini/tulisan, dalam 8 bab. Mengapa 68 dan 8? Tak ada tendensi apapun, hanya seni presisi 68 opini/tulisan dari buku ini adalah apresiasi pada IDI atas ulang tahun ke-68 (24 Oktober 1950 – 24 Oktober 2018).

Buku Satu IDI dalam 8 bab adalah harapan agar IDI tetap berkelanjutan, lestaris, dan tak terputus menggiatkan darma bakti dalam pembangunan kesehatan (vide Mukaddimah AD IDI hasil Muktamar ke-29), yang saya sebut dengan frasa “kesejahteran kesehatan”. Darma bakti yang berkelanjutan, lestaris, dan tak terputus persis seperti karakter angka 8. Darma bakti profesi mulia dan istimewa: To Infinity and Beyond!

Majelis pembaca yang mulia dan istimewa. Perkenankan patik menyajikan 68 opini/tulisan yang bangkit lagi karena Energi, yang pulih karena “terapeutik intensif” dan selesai sebagai buku alakadarnya bertitel “Jejak Advokasi Satu IDI – Rumah Besar Profesi Kedokteran” dalam gengaman Anda. Yang selesai disusun karena terpantik semangat dan mengejar tepat momentum. Mohon ijin buku ini pertama kali hadir dalam khazanah pustaka hukum kedokteran dengan momentum semarak pertemuan “kenduri” gagasan IDI, satu pertemuan nasional keluarga besar IDI yang menggelar helat Muktamar IDI ke-30 di Samarinda, Kalimantan Timur.

Terimakasih pada IDI, PB IDI dan Pimpinan Mejelis-majelis (MKKI, MPPK, MKEK), dan kerjasama yang baik dengan PB IDI dibawah kepemimpinan “Pilot in Command” Prof. Dr. Ilham Oetama Marsis, Sp. OG, dan Sekretaris Jenderal PB IDI Dr. Mohammad Adib Khumaidi, Sp. OT., beserta jajaran eksponen PB IDI dan eksekutif kantor PB IDI.

Terimakasih atas dukungan istri terkasih Advokat Zulhaina Tanamas, S.H., sang “mitokondria” pembangkit Energi penulis. Berikut tim lawyer Law Office Joni & Tanamas yang dua kali mewakili PB IDI dalam perjuangan Satu IDI di Mahkamah Konstitusi. Energi juga dilecutkan Dr. Mahesa Paranadipa Maykel, M.H., yang acap mengirim pesan WhatsApp menagih naskah buku ini untuk dikelola PB IDI. Terimakasih pada segenap kawan yang acap berdiskusi, yang membuka tabir horison, mengolah bahan demi buku ini, mereka kawan saya belajar dari hikmah Ibnu Sina, Hippokrates, dan bahkan dari ketabahan adik-adik dokter-dokter muda yang acap datang ke kantor saya yang nasibnya masih terkatung regulasi tanpa aturan transisi.

Demikianlah “takdir umum” buku yang hadir untuk mengisi literasi, pun demikian buku ini hanya noktah saja dalam khazanah hukum kedokteran. Selamat menikmati kisah “penerbangan” profesi kedokteran dalam Jejak Advokasi Satu IDI. Maaf atas sang khilaf. Ampun untuk yang tak santun. Allahu’alam. Tabik. [***]

Bagikan Ini :