telusur.co.id– Kementerian Pertanian (Kementan) menggelar Workshop penyakit African Swine Fever (ASF) dengan Tema Kesiap siagaan Ancaman ASF pada Ternak serta Industri Babi di Kota Solo, Jawa Tengah, Rabu (31/10/18). Hadir dalam worskhop tersebut diantaranya ialah pihak laboratorium kesehatan hewan (balai veteriner), Institusi pendidikan dan akademisi, pelaku bisnis bidang peternakan dan kesehatan hewan, dan para peternak babi.

Direktur Kesehatan Hewan, Fadjar Sumping Tjatur Rasa mengatakan, Indonesia harus mewaspadai ancaman masuknya ASF. Karena, belajar dari pola penyebaran penyakit babi sebelumnya, setelah terdeteksi di Tiongkok, maka dalam beberapa tahun penyakit itu telah terdeteksi di negara-negara di kawasan Asia Tenggara.

“Untuk meningkatkan kewaspadaan masyarakat khususnya pemangku kepentingan terkait babi, untuk menyamakan pola pandang terkait ancaman dan langkah-langkah strategis yang harus dilakukan untuk mencegah masuk dan kemungkinan menyebarnya penyakit hewan ASF,” kata Fadjar berdasarkan keterangan yang diterima telusur.co.id

Ditempat yang sama, National Technical Adviser dari FAO ECTAD Indonesia, Andri Jati Kusuma menuturkan, alasan kenapa Indonesia perlu mewaspadai ancaman penyakit hewan ASF lantaran hingga saat ini belum ditemukan vaksin yang bisa digunakan untuk mencegah penyakit dan juga belum ditemukan obatnya.

Oleh sebab itu, Andir menyarankan, satu-satunya cara untuk mencegah penyebaran dan mengendalikan penyakit itu apabila sudah terjadi adalah dengan cara memusnahkan babi-babi tersebut.

Sementara itu, Pengurus Asosiasi Dokter Hewan Monogastrik Indonesia (ADHMI) sekaligus guru besar dari Fakultas Kedokteran Hewan (FKH) Universitas Udayana Ida Bagus Ardana mengatakan, diperlukan kemampuan untuk deteksi dini penyakit agar ASF segera tertangani dan tidak sampai menimbulkan kerugian ekonomi yang besar. Solusinya, kata Ardana, Biosekuriti adalah strategi utama mencegah terjadinya ASF di peternakan-peternakan babi di Indonesia.

Senada dengan hal itu, Widya Asmara yang merupakan pakar penyakit hewan dan guru besar FKH Universitas Gajah Mada (UGM) menjelaskan adanya tanda-tanda klinis penyakit ASF untuk memudahkan pengenalan penyakit bagi peternak dan petugas kesehatan hewan, sehingga langkah cepat penanggulangan dapat dilakukan.

“Deteksi cepat, pelaporan cepat, dan respon cepat diperlukan untuk bisa mencegah penyebaran penyakit,” imbuh dia.[Ham]

Bagikan Ini :