FOTO: Kapolri Jenderal Pol Tito Karnavian

telusur.co.id- Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) mengaku heran dengan drama penegakkan hukum di Indonesia yang melibatkan Kapolri Jenderal Pol Tito Karnavian dan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Drama tersebut terkait, dugaan petinggi penegak hukum terlibat dalam perobekan atas buku bank sampul merah PT Impexindo Pratama. Buku itu berisi catatan pengeluaran perusahaan pada 2015-2016 dengan jumlah Rp 4,337 miliar dan US$ 206,1 ribu.

Demikian disampaikan oleh Ketua Bidang Hukum PB HMI Imam Taufiq dalam keterangan persnya kepada telusur.co.id, Jumat (12/10/18).

“Dimana buku tersebut merupakan Alat Bukti dari kasus yang menyeret Hakim Mahkamah Kostitusi yaitu Patrialis Akbar yang telah divonis delapan tahun penjara oleh Majelis Hakim Tipikor pada tanggal 4/9/2017 yang lalu, “ujar Imam.

Imam menilai, ada yang aneh di internal lembaga antirasuah ini. Lembaga yang terkenal dengan super power diduga dibobol oleh internalnya sendiri.

“Kenapa kali ini Alat Bukti yang nuansanya sangat penting bahkan wajib dalam Pencarian Fakta Penegakan Hukum diduga dirobek oleh Penyidik KPK sendiri, apakah KPK segampang itu dibobol oleh orang yang tak bertanggungjawab, “tegasnya.

BACA JUGA :  Ketua Panwaslu dan KPUD Dikabarkan Ditangkap Satgas Anti Money Politic

Menurut Imam, munculnya kasus usang yang kemudian diangkat kembali ke publik ini, muncul dugaan ada yang ingin menggemboskan KPK. Bahkan, Imam tak segan-segan menyebut, jika petinggi penegak hukum itu diduga terlibat, seharusnya ada pemeriksaan terhadap dirinya.

“Munculnya dugaan perobekan buku merah tersebut seakan-akan menjadi penilaian gobroknya KPK dalam penaganan kasus Korupsi, jikalau memang Pak Tito terlibat dalam pusaran kasus korupsi mengapa tidak sama sekali ada pemanggilan (pemeriksaa) baik jadi saksi ataupun tingkatan diatasnya dalam waktu beberapa tahun ini, “ungkapnya.

Diketahui, sejumlah media nasional yang tergabung dalam Indonesialeaks merilis hasil investigasi mengenai kasus korupsi yang diduga melibatkan para petinggi penegak hukum.

Mereka mencium adanya indikasi kerjsama dalam rangka menutupi rekam jejak kasus tersebut dengan cara penghilangan dokumen penyidikan.

Indonesialeaks menulis, Berita Acara Pemeriksaan (BAP) yang dibuat penyidik KPK, Surya Tarmiani, pada 9 Maret 2017 yang memuat keterangan saksi Kumala Dewi Sumartono yang membuat rincian catatan laporan transaksi keuangan dalam kapasitasnya sebagai Bagian Keuangan CV Sumber Laut Perkasa, justru tak ada di dalam berkas perkara. Justru BAP dari pelaku itu diduga 15 lembar transaksi lancung itu disobek.

BACA JUGA :  Pimpinan DPR Jangan Turuti "Syahwat" OSO Obok-obok Skuad Hanura

Padahal, BAP yang dibuat penyidik Surya memuat keterangan adanya 68 transaksi yang tercatat dalam buku bank merah atas nama Serang Noor dan ada 19 catatan transaksi untuk individu yang terkait dengan institusi Polri. Di sinilah, nama Kapolri Jenderal Tito Karnavian pun diduga turut terseret.

Indonesialeaks menyebut, ada buku bank bersampul merah atas nama Serang Noor IR yang memuat indikasi transaksi kejahatan tersebut.

Kemudian, ada pula fakta tindakan merobek 15 lembar catatan transaksi ‘jadah’ atas buku bank serta sapuan tip-ex di atas lembaran alat bukti kasus penyuapan atas Patralis Akbar oleh Basuki Hariman.

Perobekan atas buku bank sampul merah PT Impexindo Pratama lantaran buku itu berisi catatan pengeluaran perusahaan pada 2015-2016 dengan jumlah Rp 4,337 miliar.

Diduga, salah satu motif utamanya, ditujukan untuk menggelapkan, meniadakan bahkan menghapuskan nama besar petinggi penegak hukum yang mendapatkan transaksi ilegal dari perusahaan milik Basuki Hariman itu.[Ipk]

 

Like :

LEAVE A REPLY

Silahkan masukan komentar anda
Silahkan masukan nama anda disini