FOTO: Dok. Kemlu RI

telusur.co.id- Potensi bahaya pencemaran sampah plastik yang semakin mengkhawatirkan dan mengancam pelestarian lingkungan hidup serta generasi di masa depan menjadi alasan utama perlunya penguatan kerja sama regional dan global terkait upaya pengentasan pencemaran laut oleh sampah plastik.

Ajakan tersebut disampaikan oleh Direktur Jenderal Kerja Sama ASEAN, Jose Tavares, saat menyampaikan perkembangan atas inisiatif dan upaya Indonesia dalam penanganan sampah plastik di laut, pada Pertemuan Informational Breakfast Meeting di sela-sela Pertemuan Our Ocean Conference 2018 di Nusa Dua, Bali.

Dilansir dari laman resmi Kemlu, pertemuan dibuka oleh Deputi Bidang Koordinasi Kedaulatan Maritim dan Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman RI (Menko Maritim) menyampaikan keynote speech. Pertemuan tersebut merupakan salah satu side event di sela-sela Konferensi yang mengundang lebih dari 140 negara dan dihadiri oleh Kepala Negara/Pemerintahan, Menteri, dan Pejabat Senior.

Dalam Pertemuan tersebut, Dirjen Jose Tavares menegaskan perlunya intensifikasi awareness act untuk mendorong perubahan perilaku masyarakat dalam menekan tingkat pencemaran lautan yang disebabkan oleh sampah plastik.

Dirjen Jose juga menghimbau perlunya aksi nyata harus segera dilakukan dalam upaya mengurangi pencemaran lautan, utamanya yang disebabkan oleh sampah plastik.

Turut hadir sebagai pembicara, Rosemary Paterson, Direktur Jenderal Bidang Lingkungan Selandia Baru, dan Yasuo Takahashi, Wakil Menteri untuk Urusan Lingkungan Global Jepang.

“Sebagai negara kepulauan terbesar di dunia dan terletak diantara 2 samudra, Indonesia menjadi titik temu arus pergerakan berbagai material pencemar lautan yang sifatnya lintas batas negara. Solusi regional dan global sangat diperlukan, mengingat pergerakan material pencemar tersebut memiliki cakupan yang luas dan tidak terbatas oleh wilayah negara tertentu,” ujar Dirjen Jose dalam kesempatan ini.

Selama proses diskusi, berbagai pemikiran dan best practices dari negara-negara peserta East Asia Summit (EAS) telah berjalan dengan intensif dan diharapkan nantinya dapat menjadi salah satu pertimbangan dalam pembahasan langkah penanganan pencemaran lautan yang disebabkan oleh sampah plastik di masa depan, khususnya di kawasan.

Saat ini, Pemerintah Indonesia sedang merumuskan Rencana Aksi Nasional (RAN) untuk memberantas pencemaran sampah plastik yang terdiri dari 5 (lima) pilar utama, yakni: perubahan perilaku; menekan pencemaran dari darat (land-based); menekan pencemaran dari laut (sea-based); menekan produksi dan penggunaan plastik; serta meningkatkan mekanisme pembiayaan, reformasi kebijakan dan penegakan hukum. Diharapkan melalui implementasi RAN dimaksud, nantinya Indonesia mampu menekan tingkat pencemaran sampah plastik di laut sebesar 70 persen pada tahun 2025.

Dalam kesempatan ini, negara-negara peserta EAS menyatakan apresiasi terhadap komitmen dan langkah konkret yang telah dilakukan oleh Pemerintah Indonesia dalam mengatasi masalah pencemaran plastik. Secara resmi, Selandia Baru—sebagai co-sponsor atas inisiatif Indonesia, dan Jepang sangat terkesan dengan pendekatan yang dijalankan Indonesia dengan menekankan pentingnya perubahan perilaku dan menumbuhkan pemahaman bahaya pencemaran plastik dari usia dini melalui upaya kampanye dan kurikulum di sekolah. Untuk itu, negara-negara peserta EAS siap berkolaborasi dengan Indonesia dalam upaya mengurangi pencemaran plastik di laut.

Pertemuan secara umum membahas tindak lanjut yang tertuang dalam EAS Leaders’ Statement yang akan disepakati pada KTT EAS ke-13 pada bulan November di Singapura tahun ini. Salah satu tindak lanjut EAS Leaders’ Statement tersebut adalah inisiatif Indonesia atas penyusunan suatu Regional Plan of Action on Combating Marine Plastic Debris (Rencana Aksi Kawasan dalam Penanganan Sampah Plastik di Lautan) dalam konteks kerja sama East Asia Summit (EAS).[tp]

Bagikan Ini :