Rusdianto Samawa/Dok Pribadi

Oleh : Rusdianto Samawa

 

MENUJU MALL BASURRA, CIPINANG JAKTIM – Minggu ini, saya menerima inbok dan pesan WhatsApp dari banyak Guru Honorer yang ungkapkan keluh kesahnya selama menjadi Guru Honorer.

Saya katakan kepada mereka: “anggap saja saya penyambung keluh kesah Guru Honorer, saya siap mendengarkan secara baik.” Memang sejak neberapa tulisan dan mengajak kawan-kawan ketemu Mendikbud secara kekeluargaan. Ada harapan yang akan tercapai, pemerintah lagi fokus untuk menyelsaikan persoalannya. Harap bersabar.

Ya tergugah atas dedikasi para Guru Honorer. Misalnya, kisah miris Fandi, Guru PPKn disalah satu sekolah swasta di Jakarta adalah contoh nyata dari betapa masih memprihatinkannya kondisi guru honor di negeri ini.

Fandi harus menjaga toilet umum di kawasan Kota Tua dan berdagang membantu kerabatnya karena gaji yang diterimanya sebagai guru tidak cukup untuk memenuhi kebutuhannya sehari-hari. Masih banyak Fandi-Fandi lainnya di negeri ini, guru honorer yang tak mendapat penghasilan yang layak.

Bayangkan saja, di saat kebutuhan hidup semakin berat, masih ada guru honorer yang setiap bulan hanya menerima uang kurang dari 500 ribu rupiah. Masih beruntung jika uang tersebut diterima secara rutin setiap bulannya. Penundaan gaji adalah hal yang amat biasa terjadi. Padahal kebutuhan harian tak pernah bisa menunggu. Uang belanja yang harus dipenuhi, susu anak yang harus dibeli, atau biaya sekolah yang harus dibayarkan tak bisa ditunda-tunda.

Begitu juga seorang Andun istrinya Luky (inisial) sudah hampir 5 tahun menjadi Dosen disebuah kampus swasta Malang, mengajar hanya bergaji 500ribu dengan kebutuhan sangat tinggi.

Sejak istrinya diangkat menjadi dosen tetap kampusnya itu dengan gaji 4juta rupiah. Lalu Luky hanya menjadi aktivis di Jakarta dan Guru honorer di sekolah SMA Muhammadiyah Madiun dengan gaji 300ribu sebulan. Perbandingan gaji itulah membuat mereka bercerai.

Istri Luky meminta bercerai karena keinginan membeli mobil, rumah dan tampilan lainnya. Dan istrinya Luky selalu jalan sama laki-laki lain yang pacarnya dulu sebelum menikah dengan Luky, mereka cinta terlarang. Akhirnya mereka bercerai.

Demikian juga kisah dari Sumbawa. Ada seorang Mustar dan Citra Lestari (inisial) suami istri berdua sedang mengajar di SD 2 Sumbawa. Masalah klasik, menunggu pengangkatan PNS, Mustar berharap gaji yang diterima bisa lebih baik dan cukup agar bisa bahagiakan keluarganya.

Setelah anak Mustar cukup umur untuk ditinggal, istrinya mulai mengajar. Untungnya selang beberapa lama. Istri seorang Mustar diangkat menjadi PNS dan gajinya cukup untuk menutup kebutuhan keluarga, termasuk menggaji salah satu tetangga untuk merawat anaknya yang masih bayi kala ditinggal mengajar.

Malah Mustar tidak dapat berkah dari pengangkatan PNS istrinya itu. Namun, awal masalah karena istrinya permasalahkan status Mustar yang masih menjadi guru honorer bergaji kecil. Bahkan istrinya Mustar bersikap acuh tak acuh kepada Mustar, Istrinya lebih sering di luar bersama teman-temannya yang merupakan guru yang sudah PNS.

Mustar hanya bisa bersabar, mungkin ini adalah cobaan untuk Mustar, meski dalam hati rasanya sangat sedih disepelekan oleh istrinya sendiri. Tak berhenti di situ, keluarga mertua Mustar juga mulai berani angkat bicara, permasalahkan status Mustar dan selang beberapa lama, mereka mulai menyerang Mustar dengan berbagai cara.

Puncaknya adalah ketika istrinya sangat lantang meminta cerai, Mustar memohon agar istrinya urungkan niat untuk cerai, namun ternyata tekadnya sudah bulat dan mau tidak mau Mustar harus mengabulkan keinginan istrinya untuk bercerai.

Ada lagi kisah menarik, Abdul Azis adalah salah salah satu dari kesekian banyak Guru honorer yang berharap impiannya terwujud yakni diangkat menjadi CPNS. Baginya status sebagai PNS dianggap sebagai jalan menuju nasib yang lebih baik. Pasalnya, selama ini “upah” yang diterima sebagai Guru sukarela tidak seberapa.

Abdul Azis, Guru honor yang mengabdikan diri pada salah satu sekolah Tepencil di Kabupaten Pangkajene dan Kepulauan (Pangkep) mengaku telah mengajar selama sebelas tahun. Bayaran dihitung per ngajar, yakni lima belas ribu yang diambilkan dari dana bantuan operasional sekolah (BOS).

Untuk menambah memenuhi kebutuhan hidup, ia juga bekerja sebagai petani dan guru mengaji dikampungya. Karena apabila hanya mengadalkan pengasilan dari mengajar di sekolah jelas tidak akan mencukupi kebutuhan hidup ia dan keluarganya.

Meskipun gaji yang diterima bisa dikatakan tidak mencukupi, ia tak pernah patah semangat mengajar. Utamanya dalam mendidik murid-muridnya, karena selama bertahun-tahun mengajar ia merasa semakin cinta akan dunia pendidikan. Bahkan, tidak ada pikiran untuk meninggalkan pekerjaan yang mulia ini.

Itulah kisah tragis Guru Honorer, pengabdian guru honorer diseluruh Indonesia mestinya diapresiasi oleh pemerintah. Salah satunya dengan memberikan kesejahteraan dengan memberikan gaji setara upah minimum kota/kabupaten.

Terima kasih kepada para guru atas ketulusan mereka dalam mendidik anak-anak, dalam membesarkan mimpi dan menabuh semangat bercita-cita. Mereka memang pahlawan yang tak perlu tanda jasa, namun jelas bahwa jasa-jasa mereka tak layak hanya dihargai ucapan terima kasih belaka.[***].

*Penulis Caleg PPP DPRD Kab.Sumbawa, No Urut 8 Dapil 3 (Kec. Tarano, Empang, Plampang, Labangka dan Maronge).

Bagikan Ini :