Pembakaran Bendera Tauhid/ foto: Internet

telusur.co.id – Pembakaran bendera hitam bertuliskan kalimat tauhid oleh sejumlah oknum Barisan Ansor Serbaguna (Banser) masih menjadi polemik. Para pelaku pembakaran bendera yang diduga milik Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) itu dianggap tidak memiliki adab.

Hal itu disampaikan mantan komandan Jamaah Islamiyah (JI) Nasir Abbas dalam diskusi bertajuk “Polemik Pembakaran Bendera Berkalimat Tauhid: Menista Atau Menyelamatkan?” di kawasan Cikini, Jakarta Pusat, Kamis (1/11/18).

Nasir menyayangkan ulah oknum Banser pembakar bendera bertuliskan kalimat tauhid tersebut. Menurutnya, tidak tepat apabila pembakaran disertai sikap suka cita meski dengan tujuan melindungi kalimat tauhid.

“Kalau dia tidak setuju dengan bendera tersebut yang dianggap HTI yang sudah dibubarkan, (cukup) ambil, simpan. Kalo mau dimusnahkan, (lakukan) secara diam-diam, tertutup, bukan dihura-hura, dipamerkan,” kata Nasir.

Menurutnya, oknum Banser Garut pembakar kalimat tauhid tersebut tidak beradab lantaran melakukan aksinya dengan suka ria.

“Jadi kalo dimaksudkan untuk melindungi, menyelamatkan, kenapa dilakukan dengan tanpa adab, tanpa akhlak, itu yang menjadi masalah,” sebutnya.

Nasir khawatir tindakan oknum Banser tersebut merupakan suatu fitnah. Dirinya lantas mengingatkan agar masyarakat berhati-hati membakar simbol yang terdapat kalimat tauhid karena akan berujung fitnah.

“Saya melihat ada kebodohan, dan Banser ini muslim. Masa kita mau memusuhi sesama muslim,” timpal Nasir.

Lebih jauh dia mengimbau agar masyarakat yang tidak menyukai kelompok tertentu untuk tetap bersikap adil.

“Ketika melihat seorang muslim melakukan kesalahan ada etikanya, jangan main hantam saja,” sebutnya

Dijelaskan dia, kasus pembakaran bendera juga sudah lumrah dilakukan, namun terhadap kelompok yang dianggap pemberontak. Contohnya pembakaran bendera OPM dan PKI.

“Artinya itu adalah bendera-bendera yang dianggap menjadi musuh negara kemudian dibakar, bukan kalimat tauhid,” pungkas Nasir.[far]

Bagikan Ini :