Rusdianto Samawa/Dok Pribadi

Oleh : Rusdianto Samawa*)

 

TANAH ABANG – Ungkapan Luky menyayat hati. Sanubari kita tergugah ketika Guru Honorer mencoba untuk bisa meraih keadilan. Luky berharap, semoga pemerintah lebih memperhatikan guru honorer. Harapan untuk menjadi PNS tetap ada.” ujarnya.

Luky harap-harap cemas, hanya tak ingin ada perbedaan antara guru karena beban mengajar hampir sama. Bahkan ada guru honorer yang jam mengajarnya lebih banyak dari pada PNS. Miris bukan?.

Luky meminta, semoga pemerintah lebih memperhatikan guru honorer. Harapan untuk menjadi PNS tetap ada.

Argumentasi Luky di dukung oleh Firman Gifari dan Sumiatun Nisa Puspitasari sebagai Duta Guru Honorer yang berasal dari Lombok Timur, mereka berharap banyak, bahwa “menjadi guru merupakan pilihan mulia. Tak sembarang orang bisa menjadi guru. Terutama guru yang memiliki dedikasi pada dunia pendidikan, yang jiwa dan raganya tertambat pada anak-anak yang membutuhkan pencerahan.” Ujarnya saat demonstrasi di Jakarta kemaren.

Firman juga begitu, ungkapkan bahwa “dari sisi kesejahteraan tenaga honorer, pemerintah harus melihat perjuangan kami saat ini. Semoga ada jaminan yang ril dari pemerintah bagi kesejahteraan guru honorer.” Harapnya.

Sementara, Itta Purnamasari yang sudah mengajar lebih puluhan tahun dengan beban keluarga yang sangat besar. Tentu sangat berharap kepada pemerintah agar memperhatikan Guru Honorer sebaik mungkin.

Itta, sapaan akrabnya, memiliki pandangan: “Guru yang memiliki tekad kuat untuk berjuang saat ini demo dan demi mencerdaskan anak-anak bangsa. Upaya itu, tentu harus selaras dengan peningkatan martabat dan kesejahteraan guru. Namun, impian keluarga memiliki hidup layak sepertinya masih jauh dari harapan guru-guru honorer di Republik ini. Terutama Nusa Tenggara Barat.” Jelasnya melalui diskusi kecil sambil meminum air putih mineral setelah melahap bakso dibilangan Monas.

Lanjutnya, Itta menceritakan kisah perjalanan jauh setiap hari harus mengajar: “dulu saya masih single (belum berkeluarga) pernah mengajar di Labangka 5 Kecamatan Labangka Kabupaten Sumbawa, perjalanan saat itu, menuju ke tempat tugas mengajar hampir 5 Kilo, itu berjalan kaki sejauh itu.” Ungkapnya sambil meneteskan air mata mengenang dedikasinya yang saat itu hanya 50ribu dapatnya dalam sebulan.

Lanjutnya lagi, Itta berharap dalam sesengukan tangisannya, bahwa: “Bang Rusdi, saya memutuskan menikah di Labangka sesama Sasak, lalu pindah ke Lombok Timur tahun 1999, mencoba mengajar lagi di Labuhan Haji. Namun, kurang lebih sama penghasilan, walaupun ada peningkatan 150ribu. Sementara kakak mu (Suami Itta) bekerja serabutan. Kami terus coba bertahan hingga saat ini. Belum juga ada nasib.” Demikian Ibu Itta berkisah sambil mengusap air mata pahlawannya dengan handuk kecilnya penutup kepala.

Itta juga berusaha tegas, tegar dan kuat, semoga Presiden kali ini perhatikan nasib kami. Itta berulangkali ucapkan harapnnya: “sebagai guru di daerah terpencil seharusnya kami mendapatkan upah tunjangan Daerah Khusus, Namun sampai saat ini belum pernah medapatkannya, padahal yang menjadi syarat untuk mendapatkan tunjangan tersebut hanya dengan memiliki NUPTK dan jumlah jam mengajar yang cukup. tutupnya.

Lalu memeluk Ibuk Itta sejenak karena merasa sedih dan miris sekali. Ibu Itta ini memiliki suami kerja serabutan termasuk nelayan. Karena suaminya lah yang menemani keliling sebagai penunjuk jalan bertemu nelayan. Semoga ada jalan keluarnya.

Kemudian, menyapa Guru Honorer lainnya disilang Monas, Fitrah Mulyadi misalnya, berasal dari Jawa Tengah, bahwa “kalau ada kerjaan lain lebih sejahtera, mungkin saya akan putar haluan. Tetapi saya berharap akan ada angin segar khususnya bagi guru honorer.” ucap pria paru baya itu sesaat sebelum kembali ke kampung halamannya.

Akhirnya Guru Honorer harus diselamatkan, karena banyak yang terpental karena tak kuat menahan beban. Tak sanggup mengikuti lamanya pengangkatan. Mereka akhirnya menyerah dan tinggalkan profesinya sebagai guru. Sebab, membutuhkan kehidupan yang layak.

Tak salah jika setiap tahun, guru-guru tersebut menuntut agar diperhatikan pemerintah. Tuntutan demi tuntutan disuarakan agar mereka mendapatkan hidup yang lebih baik.[***]

 

*). Caleg Partai Persatuan Pembangunan (PPP) DPRD Kab. Sumbawa, Nomor Urut 8 Dapil III

     (Kec. Tarano, Empang, Plampang, Labangka dan Maronge).

Bagikan Ini :