telusur.co.id – Ratusan ribu massa tumpah ke jalan menggelar aksi bela tauhid II atau aksi 211, Jumat (2/11/18). Aksi tersebut merupakan buntut dari pembakaran bendera hitam bertuliskan kalimat tauhid oleh anggota Barisan Ansor Serbaguna (Banser) Nahdlatul Ulama di Garut. Pembakaran terjadi saat perayaan hari santri di daerah Limbangan, Garut, Jawa Barat, pada Senin (22/10/18) lalu.

GP Ansor, sebagai organisasi yang menaungi Banser, pun telah meminta maaf atas kegaduhan yang ditimbulkan. PBNU pun sebagai organisasi yang menaungi Ansor menyayangkan pembakaran bendera tersebut.

Namun, siapa sangka, di antara ratusan ribu bendera tauhid yang dikibarkan, terselip satu bendera NU pada aksi 211 di Bundaran Patung Kuda Jakarta Pusat, Jumat (2/11/18) siang. Pasalnya, NU adalah organisasi besar yang menanungi Ansor dan Banser. Pada aksi bela tauhid sebelumnya, ada tuntutan untuk membubarkan Banser.

Menanggapi hal  tersebut, Sekjen PBNU Helmi Faishal Zaini mengatakan bahwa tuntutan itu tak berdasar. Sebab, Banser memiliki peran penting dalam berdirinya NKRI dan tidak bisa begitu saja dibubarkan.

“Ya saya kira salah alamat ya kalau mereka suruh bubarkan Banser segala macam, Banser adalah salah satu komponen bangsa yang ikut mendirikan republik ini,” kata Helmy di Gedung PBNU, Jakarta Pusat, Jumat (26/10/18).[far]

Bagikan Ini :