telusur.co.id – Kalangan milenial disebut menjadi segmen suara yang penting dalam perhelatan pemilihan presiden (Pilpres) 2019.

Bagaimana tidak, dengan jumlah suara yang diperkirakan hingga 40 persen tersebut, tentunya menjadi pengaruh penting sekaligus rebutan bagi raupan para capres yang berlaga di pilpres 2019.

Juru Bicara Badan Pemenangan Prabowo Subianto – Sandiaga Uno, Dahnil Anzar Simanjuntak mengatakan, peran kalangan milenial memang sangat penting. Karena pentingnya, kata Dahnil, jangan sampai definisi milenial dipersempit hanya sekedar kategori umur dan kategori fisik. Tapi dia juga harus masuk kategori kualitatif.

“Jangan sampai milenial dikategorikan pada segi fisik saja seperti baju, sepatu, sendal dan lain-lain. Milenial menjadi target suara, karena jumlahnya yang begitu signifikan,” kata Dahnil dalam Diskusi Ekonomi Milenial di kawasan Cikini, Jakarta Pusat, Sabtu (3/11/18).

Bahkan, kata Dahnil, karena milenial hanya dipahami dari segi fisik, ada capres yang coba mendekati milenial dengan bergaya dan berpura-pura memakai motor gede, sepatu sneakers dan lainnya.

“Kan ada yang berlagak milenial dengan memakai motor gede. Saya berpandangan, milenial itu dilihat secara substanstif, bukan fisik. Milenial tidak suka dengan kepalsuan dan kepura-puraan,” terang Dahnil.

Disamping itu, lanjut Dahnil, kalangan milenial jika bercanda lepas, tidak ada kepura-puraan. Milenial tidak kaku dan apa adanya. Misalnya candaan seseorang yang bilang “dasar lo bewok, dasar lo Betawi”. Jika ditanggapi kaku, maka akan dianggap itu adalah ujaran kebencian, rasis dan sebagainya.

“Pak Prabowo lagi bercanda menyebut Boyolali, nah kemudian ini dipolitisasi,” ungkap Dahnil.

Padahal, kata Dahnil, candaan seperti adalah hal biasa, apalagi jika candaan tersebut diucapkan di kalangan milenial.

“Nah perkataan Pak Prabowo itu dipolitisasi dan menjadi ujaran kebencian, kan ada yang ngelaporin Pak Prabowo soal itu. Nah anak milenial itu muak lihat yang kaya gitu,” tandasnya.[far]

Bagikan Ini :