telusur.co.id – Di tengah aksi bela tauhid I pada Jumat (26/10/18) dan aksi bela tauhid II pada Jumat (2/11/18) muncul seruan 2019 ganti presiden.

Seruan 2019 ganti presiden terdengar setelah koordinator aksi bela tauhid menyebut pemerintahan Presiden Joko Widodo tidak serius mengusut pelaku pembakaran bendera hitam bertuliskan kalimat tauhid di Garut.

Menanggapi hal itu, Koordinator Juru Bicara Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo Subianto – Sandiaga Uno, Dahnil Anzar Simanjuntak mengatakan, persoalan itu adalah hal yang biasa.

“Itu kan sikap politik mereka ya, biasa saja. Menurut saya sih silahkan saja. Jadi yang jelas kami menghormati sikap politik itu,” kata Dahnil ditemui di kawasan Cikini, Jakarta Pusat, Sabtu (3/11/18).

Menurutnya, mungkin saja karena peserta aksi bela tauhid tersebut merasa tidak puas dengan pemerintahan yang ada sekarang. Bagaimanapun, kata dia, itu adalah hak konstitusional seorang warga negara.

“Itu kan hak konstitusional orang untuk menyatakan dukungan dia ke siapapun, dan tentu dengan cara-cara yang baik, gitu aja,” tambahnya.

Lebih lanjut, Dahnil membantah kalau aksi tersebut dijadikan ajang kampanye terselubung tim capres penantang petahana, Prabowo-Sandi.

“Kan yang menyampaikan bukan kami (tim pemenangan), tapi publik, masyarakat. Masa masyarakat dilarang untuk mengekspresikan dukungan mereka. Jadi kok tiba-tiba kita jadi fasis gitu loh, ngelarang-larang orang berekspresi,” demikian Dahnil.[far]

Bagikan Ini :