Oleh: Mukhlas Syarkun

RASANYA lega mendengar kabar bahwa Gus Irvan putra KH. Yusuf Hasyim yang juga cucuk Pendiri NU bergabung dalam team Prabow-Sandi (menjadi juru bicara), sebab belakangan ini begitu terasa fenomena adanya upaya pembenturan antara NU dengan kelompok lain dengan mendompleng agenda pilpres 2019.

Padahal pilpres adalah agenda nasional yang biasa rutin lima tahunan dan kita telah berpengalaman dan matang untuk menjalankan pesta demokrasi dengan baik, pasca reformasi menghasilkan pemerintah silih berganti adalah sesuatu yang lumrah di republik ini.

Mengapa kita lega? Karena sebelum ini kita cemas atas manuver sebagian para elit NU baik ditingkat pusat dan diberbagai tingkatan yang nampaknya telah terseret dalam pusaran adu domba, bahkan ada pimpinan wilyah NU yang dengan terang-terang membuat pernyataan yang tidak mententramkan tapi malah membuat cemas, dia menggambarkan seolah-olah pilpres ini adalah perebutan antara pembela NKRI VS radikal penghancur NKRI.

Padahal yang ikut kontestasi 2019 keduanya adalah pro NKRI dan bersaing dalam koridor demokrasi, mestinya para elit memberi pendidikan politik yang mencerdaskan dan mententramkan bukan membuat provokasi dan membodohi.

Oleh karena itu, berharap kahadiran Gus
Irvan Yusuf di team Parbowo-Sandi dapat mempertegas posisi khittoh NU dan dalam waktu yang sama dapat menepis anggapan salah bahwa sesungguhnya kubu Prabowo bukan kelompok radikal dan juga tidak anti NU.

Selanjutnya agar bangsa ini dapat menjalankan demokrasi dengan damai
riang gembira bukan dengan kecemasan, dan apalagi ini hanya urusan kekuasaan yang sesungguhnya oleh nabi tidak boleh capai dengan cara yang membabi buta dan apalagi menghalalkan segala cara, bahkan kata Gus Dur, “tidak ada jabatan di dunia ini yang perlu dipertahankan mati-matian”, justru persatuan dan kedamian itulah yang harus dipertahankan mati-matian bukan.[]

Bagikan Ini :