telusur.co.id- Wakil Ketua Komisi IX DPR Ichsan Firdaus meminta pemerintah tegas kepada Arab Saudi terkait eksekusi mati pekerja migra asal Majalengka Tuti Tursilawati, tanpa ada pemberitaan atau notifikasi. Padahal, usai eksekusi mati terhadap Siti Rubiah pada 2015 lalu, Indonesia sudah membuat nota kesepahaman (Memorandum of Understanding/MoU) dengan Arab Saudi.

Ichsan menegaskan, negeri Raja Salma juga tidak menghiraukan konvensi Wina, Autria, pada 1963 silam, terkait Mandatory Colsular  Notification (MCN).

“Ini problemnya di arab saudi sudah ada MoU tapi tidak dilanjutkan. Perlu kita dorong agar Arab Saudi mematuhi konvensi Wina tahun 63 itu,” kata  Ichsan dalam sebuah diskusi bertajuk “Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia” di Kompleks Parlemen, Jakarta, Senin (5/11/18).

Menurut politikus Partai Golkar ini, kedepan pemerintah Indonesia harus membuat perjanjian baru yang sifatnya mengikat Arab Saudi, terutama dalam hal pengiriman tenaga kerja.

“Ini perlu kita tekankan kepada pemerintah Indonesia untuk segera melakukan perjanjina bukan hanya MoU tapi perjanjian yang sifatnya mengikat terutama terkiat pengiriman.  Jangan dikirimkan 30 ribu, kalau tidak ada perjanjian yang jelas dan clear,” tegasnya.

Kasus yang menimpa Tuti, kata Ichsan, cukup menjadi pelajaran terakhir bagi Indonesia.

“Artinya kita tidak boleh tunduk tidak boleh menerima begitu saja tata cara hukum yang ada di Arab Saudi,” tandasnya.[far]

Bagikan Ini :