telusur.co.id – Pengamat Politik Ade Reza Haryadi mengatakan, saat ini yang menjadi tren adalah semua hal bisa diperkarakan secara hukum. Menurutnya, hal ini merupakan satu euforia yang sangat luar biasa.

“Sehingga salah ngomong, keceplosan sedikit atau salah gestur sedikit dibawa kepada ranah hukum,” kata Reza ditemui di kawasan Jakarta Pusat, Rabu (7/11/18).

Karenanya, kata dia, semua pihak mengantisipasi kemungkinan-kemungkinan itu dimana politik, sosial kemudian dibawa kepada ranah hukum dengan merekrut pengacara handal seperti Yusril Ihza Mahendra yang bersedia menjadi pengacara pasangan Jokowi-Ma’ruf Amin.

“Ya semua sekarang mempersiapkan diri untuk mengantisipasi jika ada perkara yang berindikasi terhadap persoalan-persoalan tersebut,” ujar Reza.

Untuk saat ini, lanjut dia, persoalan ITE yang mencakup masalah-masalah sosial yang didefinisikan sebagai ujaran kebencian, hatespeech, pencemaran nama baik dan lain sebagainya yang mendominasi.

Menurutnya, pasal-pasal tentang itu merupakan pasal karet yang interpretasinya terlalu luas. Nantinya, kata dia, yang bertarung bukan fakta-fakta, tetapi persepsi para ahli.

“Ini saya kira di satu sisi bisa menjadi mekanisme untuk mengatasi kerugian-kerugian akibat opini negatif yang berkembang di masyarakat. Tetapi di sisi lain juga bisa menimbulkan hiruk pikiuk yang luar biasa. Karena ruang interpretasi yang sangat luas terhadap konsep apa yang dimaksud sebagai ujaran kebencian, hatespeech, lalu persoalan ITE segala macam,” paparnya.

Dia mencontohkan, kasus Boyolali mejadi semacam spiral of violence, diaman satu persoalan memicu persoalan yang lain yang tiada hentinya.

“Contoh Pak Prabowo diasumsikan melakukan ujaran kebencian karena persoalan tampang Boyolali, tapi kemudian yang mengkritik (Bupati Boyolali) itu juga terjebak pada persoalan yang sama. Bahkan dia diindikasikan terjebak pada persoalan-persolan berlapis, tidak hanya persoalan ujaran kebencian, tetapi juga pelanggaran aturan kepemiluan tentang kampanye, pengerahan ASN dan lain sebagainya,” katanya.

Nah, hal ini menjadi semacam spiral yang menurutnya harus diputus. Para elit harus membangun pesan-pesan politik yang lebih dewasa dan mencerdaskan kepada publik. Tidak berkutat kepada persoalan-persoalan yang kontra produktif.

“Bertarunglah pada isu dan program yang bisa diuji secara rasional dan bisa diverifikasi secara empiris dan secara akademis, saya kira mestinya ke arah sana,” demikian Reza.[far]

Bagikan Ini :