Ketua Pusat Ikatan Guru Mata Pelajaran Bahasa Indonesia (IGMPBI) Nurbadriyah. FOTO: Dok. IGI

KEGIATAN Training of Trainer E-Learning “Schoology” yang digelar di Aula Inspektorat, Rabu, 7 November 2018, mendapat sambutan luar biasa dari para guru hebat Banten.

Dibuka oleh Kabid Ketenagaan dan Kelembagaan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Banten, H.M Taqwim, mengatakan semua guru wajib memiliki empat kompetensi guru dan menjalankan tugasnya dengan profesional agar keberadaan guru di kelas selalu dinanti oleh semua siswa. Karena guru yang selalu mengembangkan diri akan berhasil menjadikan dirinya sebagai tenaga ahli yang siap membawa perubahan positif kepada negeri ini.

Jabatan guru merupakan jabatan profesional yang menghendaki guru harus bekerja secara profesional. Bekerja sebagai seorang yang profesional, berarti bekerja dengan keahlian atau kompetensi, serta kemampuan guru untuk mengelola pembelajaran. Hal ini dilakukan agar tujuan dari pendidikan tercapai.

Mengapa guru dikatakan tenaga profesional? Karena tugas guru tidak bisa digantikan oleh siapa pun dan oleh apa pun. Canggihnya teknologi tak kan cukup untuk menggantikan peran guru di depan kelas.

Tugas guru bukan hanya mengajar dan mendidik saja, sebagai guru yang profesional, guru juga dituntut untuk menginspirasi dan menggerakkan.

Mengutip Sambutan Anies Baswedan dalam peringatan Hari Guru Nasional 2017, Guru memiliki empat level yaitu Mengajar, mendidik, menginspirasi, dan menggerakkan. Kebanyakan guru sudah merasa nyaman pada level 1 dan 2 (mengajar dan mendidik). Sudah merasa nyaman pada zona itu.

Tidak ingin menggali informasi, menambah wawasan, dan meningkatkan kompetensi. Padahal pemerintah sudah menyediakan wadah untuk guru melakukan pengembangan diri.

Bukan tanpa alasan pemerintah memberikan tunjangan tambahan untuk guru. Tunjangan profesional yang diterima guru, di dalamnya bertujuan untuk pengembangan diri. Harapan pemerintah setelah memberikan tunjangan profesional kepada guru adalah menjadikan guru benar-benar profesional.

Artinya guru yang diharapkan di sini adalah guru level 3 dan 4. Kriteria guru dalam level inilah yang pantas menerima tunjangan profesi. Seperti apakah guru yang dimaksud?

Guru level 3 dan 4 adalah guru yang dapat menginspiransi dan menggerakkan. Logikanya, bagaimana guru dapat menginspirasi, jika enggan meningkatkan kompetensi. Bagaimana guru akan menggerakkan, Jika gurunya sendiri tidak mau bergerak alias nyaman dikelas dengan kompetensi yang apa adanya.

Lagi-lagi kepala sekolah yang jadi alasan guru tidak mengikuti pelatihan. Ini harus dikroscek kebenarannya. Benarkah kepala Sekolah tidak mengizinkan gurunya untuk maju? Kepala sekolah tidak akan melarang guru keluar kelas jika guru berkoordinasi dengan kurikulum untukmengosongkan satu hari saja khusus untuk hari MGMP yang digunakan untuk mengembangkan dan mengekspresikan diri, menggali dan berbagi informasi.

Saya akan menggarisbawahi poin 4,11, dan 12 Undang-Undang Guru dan Dosen pasal 14 ayat 1 yang menyatakan bahwa dalam melaksanakan tugas keprofesionalan, guru memiliki hak sebagai berikut:

  1. Memperoleh penghasilan di atas kebutuhan hidup minimum dan jaminan kesejahteraan sosial.
  2. Mendapatkan promosi dan penghargaan sesuai dengan tugas dan prestasi kerja.
  3. Memperoleh perlindungan dalam melaksanakan tugas dan hak atas kekayaan intelektual.
  4. Memperoleh kesempatan untuk meningkatkan kompetensi.
  5. Memperoleh dan memanfaatkan sarana dan prasarana pembelajaran untuk menunjang kelancaran tugas keprofesionalan.
  1. Memiliki kebebasan dalam memberikan penilaian dan ikut menentukan kelulusan, penghargaan, dan/atau sanksi kepada peserta didik.
  2. Sesuai dengan kaidah pendidikan, kode etik guru, dan peraturan perundang-undangan.
  3. Memperoleh rasa aman dan jaminan keselamatan dalam melaksanakan tugas.
  4. Memiliki kebebasan untuk berserikat dalam organisasi profesi.
  5. Memiliki kesempatan untuk berperan dalam penentuan kebijakan pendidikan.
  6. Memperoleh kesempatan untuk mengembangkan dan meningkatkan kualifikasi akademik dan kompetensi, dan/atau
  7. Memperoleh pelatihan dan pengembangan profesi dalam bidangnya.

Nah, sekarang tidak ada alasan guru berada di zona nyaman. Guru tidak mau mengikuti pelatihan, guru enggan aktif dalam organisasi, guru enggan mengembangkan diri. Ayo bangkitlah para guru, laksanakan tugas kita dengan benar.

Bukankah Allah selalu memuliakan hamba-Nya yang selalu menjalankan amanah-Nya dengan benar. Berubahlah sebelum terlambat,kalu bukan sekarang, kapan lagi? Kalau bukan kita yang mengawali, Siapa lagi?[***]

Penulis: Nurbadriyah (Ketua Pusat Ikatan Guru Mata Pelajaran Bahasa Indonesia )

Bagikan Ini :