Ketua Umum Perkumpulan Alumni Organisasi Pelajar Pemuda Mahasiswa Islam (PAPMI) Bursah Zarnubi/telusur.co.id

telusur.co.id – Ketua Umum Perkumpulan Alumni Organisasi Pelajar Pemuda Mahasiswa Islam (PAPMI) Bursah Zarnubi mengatakan, hari pahlawan harus terus digelorakan, terutama oleh generasi milenial.

Pasalnya, generasi milenial yang jumlahnya saat ini mencapai 40 persen sudah tercerabut dari lingkungan sosial.

“Padahal mereka sangat dibutuhkan untuk jalannya bangsa ini,” kata Bursah dalam Seminar Hari Pahlawan, Gelorakan Hari Pahlawan “Makna dan Arti Pahlawan Bagi Milenial, di Universitas Trilogi, Jakarta Selatan, Kamis (8/11/18).

Beda dengan generasi pemuda tahun 80-an, yang terpanggil untuk mengawal perkembangan demokrasi. Padahal, saat itu kebebasan dibatasi oleh pemeritahan Orde Baru.

“Karena keterpanggilan dan keterpaksaan, kita banyak terlibat dengan perkembangan sosial yang menuntut kita membebaskan diri dari rezim otoritarian Orde Baru,” terang Bursah.

Bursah menjelaskan, kampus secara historikal harus dijadikan tempat kebebasan berpikir, yang hampir 32 tahun kehidupan mencekam. Saat itu kampus menjadi mesin peternak mahasiswa yang tujuannya hanya ijazah.

Karenanya, Bursah mendorong kepada mahasiswa sebagai generasi milenial untuk mengambil pelajaran dari para pahlawan kemerdekaan.

Pemuda, kata Bursah, harus mencontoh semangat para pemuda dahulu yang mencetuskan sumpah pemuda pada tahun 1928.

“Sumpah pemuda merupakan tonggak sejarah bangsa. Saat itulah kesadaran berbangsa lahir. Dia mengkristal dari 5 prasyarat, yakni kemauan, sejarah, bahasa, adat istiadat dan pendidikan,” terangnya.

Bursah mengungkapkan, pada saat Sumpah Pemuda, ada kelompok agama dan suku. Jadi, kalau ada orang yang mempertentangkan Pancasila dengan agama, maka pasti gagal. Karena Pancasila sudah menjadi falsafah bangsa ini.

“Bayangkan, seandainya kita tak bisa mempertahankan Sumpah Pemuda, Pancasila dan NKRI, Indonesia mau jadi apa ke depan,” tambah dia.

Oleh karena itu, Bursah meminta kepada mahasiswa sebagai generasi muda, untuk berkontribusi terhadap bangsa ini, menjaga Pancasila dan NKRI.

“Nah kita harus menjaga itu. Bahwa kita bertanah air satu, berbangsa satu dan berbahasa satu dengan Pancasila sebagai falsafah bangsa kita,” tambahnya.

Dalam kesempatan yang sama, pengamat politik Adi Prayitno juga meminta kepada mahasiswa untuk menjaga tradisi membaca buku, mengenal perjuangan para tokoh bangsa.

Dikatakan Adi, memikirkan masa deoan bangsa bukan hanya tugas para politisi dan aktifis. Tapi semua pihak apapun profesinya.

“Saya gak peduli profesi anda apa. Mau kadi poltisi, teknokrat, insinyur, apapun. Tapi ingat, keberpihakan terhadap bangsa Indonesia, memperkuat wawasan kebangsaan, itu menjadi hal yang tak bisa ditawar,” kata Adi.[far]

Bagikan Ini :