FOTO: Istimewa

telusur.co.id- Dirut PT Food Station Tjipinang Jaya, Arief Prasetyo mengakui, jika ketersediaan beras medium tengah menurun akhir-akhir ini. Dia menduga ada oknum pedagang yang sengaja mengubah beras medium yang disalurkan oleh Bulog menjadi premium.

“Ini adalah mekanisme ekuilibrium baru, ini fenomena yang terjadi. Jadi bukan masalah produksi,” kata Arief saat mendampingi Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman dan Birut Bulog Budi Waseso serta Ketua Satgas Pangan Pusat Irjen Pol. Setyo Wasisto, inspeksi ke Pasar Kramat Jati dan Cipinang, Jakarta, Kamis (8/11/18).

Menurut Arief, jika mengubah beras kualitas medium milik Bulog menjadi premium, maka keuntungan yang diperoleh penjual akan meningkat. Namun, hal itu sangat merugikan konsumen.

“Artinya, kalau panennya segitu kemudian mereka lebih memilih ke premium, karena marginnya lebih tinggi,” paparnya.

Beras kualitas premium, lanjut Arief, spesifikasinya adalah hanya terdapat 5 persen saja yang pecah (broken). Sedangkan, di pasar aturan itu berubah menjadi 15 persen.

Karenanya, jumlah beras dengan kualitas semacam itu, sangat banyak dibandingkan dengan beras kualitas medium. Apalagi di pasar Cipinang, saat ini ketersediaan beras premium mencapai 80 persen. Sementara, beras medium di bawah 15 persen.

“Saya melihatnya ini lebih baik. Jadi orang ngambilnya berasnya yang lebih baik. Enggak mau lagi beras medium,” tandasnya.

Sementara itu, Ketua Satgas Pangan Pusat, Irjen Pol. Setyo Wasisto mengatakan, tugasnya ialah mengontrol aksi nakal pedagang. Karenanya, Setyo mengaku akan segera turun ke lapangan dan memeriksa kualitas beras yang beredar di pasar lewat tes uji laboratorium. Tujuannya supaya masyarakat tidak tertipu.

“Ini menjadi tugas saya sebagai Satgas Pangan untuk melakukan pengawasan. Kita akan lakukan cek di lapangan dan melakukan uji laboratorium juga atas kualitas beras yang ada di lapangan,” kata Setyo.[tp]

Bagikan Ini :