Ahmad Yani/Net

KALAU 10 November kita memperingati heroisme yang ditampilkan oleh Bangsa Indonesia dihadapan dunia Internasional dan melakukan perlawanan terhadap “Api Penjajah” yang datang setelah dipadamkan pada tanggal 17 Agustus 1945.

Maka pada tiap 10 November kita selalu merayakan hari, dimana heroisme para pahlawan itu kita petik spiritnya untuk membangun dan memajukan bangsa.

Tiap 10 November kita meneriakkan merdek atau mati. Namun kadangkala kata yang bermakna itu seakan-akan terus mengalami kelunturan nilai hingga menjadi kata yang tidak memiliki arti.

Kalau kita putar pidato Bung Tomo pada 10 November 1945 maka kita menemukan satu tekad, bahwa dengan darah, keringat dan air mata kemerdekaan harus tetap dipertahankan.

Lantunan takbir yang menggema melalui siaran radio, mensyaratkan bahwa tidak kekuatan dan kekuasaan, kecuali pada yang memiliki kekuasaan tertinggi.

Jadi kemerdekaan itu adalah berkaitan kondisi lahirian dan batiniah. Secara lahiriah bisa saja orang menyebut dirinya merdeka, padahal secara bathin dirinya masih terbelenggu oleh rantai kolonial yang panjang.

Maka yang paling utama adalah, apakah kita masih memiliki semangat kepahlawanan?

Semangat kepahlawanan adalah jiwa pemimpin, yang mampu, membimbing untuk melawan segala bentuk kolonialisme yang merantai dirinya dan bangsanya. Yang menampilkan kemerdekaan diri, ketidaktundukan dan menolak segala perasaan inferior kepada bangsa penjajah yang feodal. Yang kepemimpinannya sebagaimana yang dikatakan oleh H. Agus Salim ‘Leiden is Lijden’.

Seperti Itulah yang dikatakan pahlawan. Atau paling tidak mereka yang memiliki jiwa kepahlawanan. Dikatakan pahlawan, karena mereka rela dan tulus merasakan kepedihan perjuangan, merenggut dari diri mereka sendiri ketenangan hidup dan menyumbangkan untuk bangsa dan negaranya.

Belenggu Pejajah

Semnetara itu, dalam kepahlawanan yang semakin kurang kita masih mempertegang urat leher tentang tafsir akan kata “penjajahan”, perdebatan ini menyangkut penjajahan dari sudut pandang yuridis, politis dan ekonomi. Tapi yang pastinya dalam seluruh tafsiran secara bahasa, bahwa penjajahan itu merupakan bentuk yang tidak terpuji, sebuah kejahatan, walaupun ada kebaikan, kebaikan itu tidak sebanding dengan kejahatan yang mereka lakukan.

Karena hakikatnya penjajah itu meletakkan kemauannya atas kepala bangsa yang dijajahnya dan menekan jiwanya dengan menggunakan kekuatan dan kekuasaan, baik itu secara ekonomi, politik dan hukum, yang dilakukan melalui “kongkalikong” dengan “pengkhianat bangsa” maupun dengan cara paksa seperti yang dilakukan oleh Belanda, Jepang. Dan juga Inggris yang datang pada 10 November 1945.

Dalam sekian lama dijajah oleh bangsa asing, bangsa Indonesia telah menjadi bangsa yang hina dan miskin di tengah-tengah bangsa asing lainnya yang kaya-raya, yang hidup dalam kemewahan, kesenangan yang hampir tidak ada batasnya.

Sementara itu bangsa Indonesia masih dalam kondisi yang agak memprihatinkan, kesenjangan ekonomi masih tinggi, kehidupan rakyat masih memprihatinkan, angka kemiskinan masih tinggi.

Namun 10 November atau 17 Agustus, pekikan kemerdekaan terdengar keras namun muka terlihat masih layu dan semangatnya semakin kendor, kata-kata nasionalisme masih belum jelas arahnya.

Para pemimpin berpidato tentang nasionalisme dan kemerdekaan serta kepahlawanan. Tapi mereka masih datang meminta-minta kepada bangsa kolonial. Bayangkah Hutang Negara hari ini semakin meningkat tajam, pinjaman dari lembaga-lembaga internasional terus mengalir ke Indonesia.

Nilai tukar rupiah semakin anjlok, harga-harga kebutuhan pokok semakin meninggi, harga produksi pertanian menurun tajam, disebabkan karena barang impor telah mencolok mata penguasan.

Sementara rakyat diberi slogan setelah itu semua urusan selesai. Padahal rakyat memerlukan bukti dari pekikan kemerdekaan dan slogan nasionalisme itu.

Rakyat Indonesia ingin melihat kemauan menghapuskan sisa-sisa penjajahan dan sisa-sisa penindasan ekonomi, serta monopoli bangsa asing, supaya bangsa Indonesia memiliki kelapangan, pendeknya adalah ekonomi bangsa Indonesia mesti dinaikkan, kebudayaannya harus dipentingkan, dan keadaan itu barulah dapat dilaksanakan apabila pemerintah yang mengurus kehidupan 250 Juta manusia ini tidak diusik-usik lagi oleh sisa-sisa nafsu penjajahan.

Jadi yang diharapkan adalah pemimpin Indonesia yang dapat menciptakan kemakmuran rakyat dan keadilan sosial, bukan yang lupa daratan setelah mendapat gaji besar, berfoya-foya dalam kesenangan, semnetara rakyat menderita. Padahal justru kalau kita menggukan istilah ‘Leiden Is Lijden’ atau pemimpin adalah menderita maka ini merupakan bentuk ingkar terhadap janji kepemimpinan dan tidak amanah.

Sebab, Pemimpin Indonesia adalah golongan yang bertanggunjawab atas sejarah tanah airnya dikemudian hari. Maka pemimpin itu harus menjuruskan perhatiannya kepada penderitaan rakyat dan bangsanya dikampung-kampung.

Disaat Indonesia telah betul-betul merdeka maka dengan sendirinya segala kondisi sosial dan ekonomi akan menjadi baik. Yang perlu disadari bahwa masyarakat perlu keamanan untuk pembangunan bangsa, dan pembangunan itu memerlukan banyak tenaga, maka diperlukan persatuan dan kesatuan.

Jangan akibat kekurangan tenaga kita mendatangkan tenaga asing, bahkan untuk mencangkulpun kita datangkan dari Tiongkok. Apakah orang Indonesia tidak bisa mencangkul?

Bangsa Indonesia harus “siuman” dari “kegemerlapan” kekuasaan. Sebab Penjajahan tidak sekasar belanda di masa lalu, penjajahan tidak sekeras kerja rodi di zaman Jepang. Penjajahan sekarang telah merubah diri dalam bentuk halus, memasuki ruang-ruang dari celah peraturan, memasuki gunung-gunung dan hutan-hutan. Kalau dulu bangsa kita berjuang memasuki gunung-gunung, sekarang penjajah memasuki gunung-gunung kita dan kita terlelap dari semua itu.

Bangsa Indonesia di kenal diluar negeri sebagai bangsa yang kaya raya, didalam tanahnya tersimpan kekayaan banyak, didalam gunung terdapat batu-batu emas, terdapat bahan-bahan yang diperlukan untuk orang-orang diluar negeri, baik untuk keperluan perang maupun keperluan penjajahan kembali, di Indonesia terdapat semua itu.

Namun sayang orang kurang tahu bahwa Indonesia masih merupakan bangsa yang luntang-lantung meminta pinjaman dari IMF, bangsa Indonesia masih merupakan bangsa yang lemah dari segi politik, social dan kebudayaan.

Melepaskan system penjajahan berarti rasa inferior harus dihilangkan. Kesombongan dan keangkuhan bangsa-bangsa asing harus dibungkamkan, tidak ada lagi penghargaan terhadap keunggulan ras dan warna kulit yang menyebabkan bangsa ini menderita karena penjajahan. Karena hakikat penjajahan itu adalah terror dan ancaman besar bagi kemajuan bangsa. Dan kita harus menang melawan penjajah.

Kemenangan tidak hanya diukur dari sesuatu materi dan peralatan perang yang kita punya, seumpanya ini berkaitan dengan perang. Kalau kita mau jujur, bahwa ketika bangsa Indonesia melawan belanda di masa lalu, kekuatan dan peralatan Indonesia tidak sebanding dengan yang dimiliki oleh belanda. Disini dapat kita lihat bahwa peralatan saja tidak cukup untuk mendatangkan kemenangan dalam perjuangan.

Namun yang harus dimiliki adalah rasa percaya diri akan kekuatan bangsa sendiri, dengan keyakinan spiritual yang tinggi, bahwa kita anti penjajahan dan kita mencintai perdamaian, menjujung tinggi keadilan dan kesamaan dalam hidup dan kehidupan. Ingatlah pancasila dan UUD 1945 sebagai pondasi kita, dan kesatuan dan persatuan bangsa adalah keharusan untuk menghentikan penjajahan yang terjadi.

Manusia merdeka dalam Negara merdeka akan mampu menciptakan sebuah dunia baru yang bisa menjadi arah baru, dan itu harus dicari dalam diri bangsa Indonesia itu sendiri, dari dalam jiwa bangsa Indonesia, yang menjadi teras dari pribadi manusia Indonesia, yang mempunyai gaya hidup sendiri, bukan tiruan, bukan Barat, bukan Timur, bukan pula Selatan dan Utara, melainkan Indonesia itu sendiri. Dalam hal ini jangan menjadi orang kedua apalagi ketiga peniru bangsa lain untuk membangun kepribadian bangsa sendiri.

Kalau Indonesia belum bisa berdikari di bidang ekonomi dan politik maka Indonesia akan menjadi Negara yang berjiwa kerdil dengan postur yang besar. Indonesia akan menjadi bangsa yang akan mampu dipecah-belah, akan jadi bangsa yang mampu didikte oleh bangsa lain. Sudah saatnya bangsa ini merdeka sepenuhnya supaya cita-cita nasional tidak menjadi “duka dan nestapa” nasional.

Menjadi Pahlawan

Ditengah kondisi bangsa yang begitu sangat memprihatinkan, kita sebagai orang yang bertanggungjawab atas keberlangsungan sejarah dan kehidupan bangsa, harus membuka mata kita terhadap persoalan penjajahan ini.

Sebab, semakin kita tidak memperhatikan, maka penjajahan akan semakin merenggut kepahlawaban kita. Karena penjajah akan menebarkan pesimisme dan membunuh karakter kepahlawanan.

Maka dengan momentum 10 November 2018, tidak henti-hentinya kita mengingatkan bahwa kepahlawanan itu adalah modal utama untuk mengusir segala bentuk belenggu kolonialisme. Apabila kepahlawanan telah tiada dalam diri kita, maka penjajahan akan mencokoki pikiran dan perasaan.

Maka pada akhirnya, marilah kita bersama-sama membangun bangsa dengan semangat kepahlawanan, belajarlah dari pendahulu yang berkorbang untuk bangsa dan negara. [***]

Wallahu alam bis shawab.

Dr. Ahmad Yani, SH. MH.
*Penulis adalah politisi

Bagikan Ini :