Staf Khusus Menteri Agama Bidang Komunikasi Hadi Rahmat/FOTO: Dok. Kemenag

telusur.co.id- Perkembangan media sosial (medsos) yang sangat masif menuntut para guru untuk mencari cara membentengi  siswa didiknya di sekolah.  Hal ini penting, mengingat  banyak persoalan yang bisa muncul akibat salah menggunakannya. Kondisi itu tidak hanya merusakan karakter siswa, tetapi juga bisa berdampak hukum.

Hal ini disampaikan Staf Khusus Menteri Agama Bidang Komunikasi, Hadi Rahman saat menjadi narasumber. kegiatan Penguatan Pendidikan Karakter (PPK), Deradikalisasi, Wawasan kebangsaan dan moderasi Islam bagi Guru dan Tenaga Kependidikan di Bekasi, Jawa Barat, Sabtu (10/11/18).

”Siswa sekarang tidak lepas dari smartphone dan laptop yang terhubung dengan jaringan internet. Masuknya informasi seperti ‘air bah’ yang tidak bisa dibendung lagi. Ini sangat membutuhkan sikap bijak dan literasi sosmed yang diharapkan dapat menyaring informasi yang diterima,” ujar Hadi.

Menurutnya, peran guru sangat signifikan dalam  mencerdaskan anak didiknya menjadi bijak menggunakan  medsos. Jangan sampai yang terjadi malah sebaliknya, guru yang sudah terpapar info negatif atau hoax lalu menyebarkannya kepada siswa.

“Selain itu,  akibat postingan yang dibagikan dapat membuat  pengguna IT bisa berdampak terseret persoalan hukum akibat ujaran kebencian, dan bermacam persoalan hukum lainnya,” jelasnya.

“Dalam bermedia sosial dibutuhkan filter, baik yang dilakukan secara nasional misalnya adanya regulasi seperti bloking konten yang tidak layak, atau minimal filter terhadap diri sendiri dan itu harus diajarkan kepada siswa didik,” lanjutnya.

Guru juga harus lebih bijak guna memahami segala hal menyangkut medsos. Dia juga harus mengikuti trend ‘kultur digital’ seperti penggunaan bahasa teks yang kerap digunakan anak muda.

“Para guru hendaknya menjadi teladan dalam bermedsos, memberi contoh apa yang layak dibagikan dan tidak layak dibagikan,” tutup Hadi, dilansir dari lama Kemenag.[tp]

Bagikan Ini :