Peneliti Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Siti Zuhro, Irjen Kementerian Sosial (Kemensos), Dadang Iskandar,Anggota Komisi III DPR RI dari Fraksi PKB, Abdul Kadir Karding. Foto:Bambang Tri P / telusur.co.id

telusur.co.id- Kampanye Pilpres dewasa ini semakin jauh dari adu gagsan, program dan visi-misi. Pasalnya, para Capres hanya sibuk saling sindir diksi, mulai dari ‘politikus sontoloyo’, ‘tampang Boyolali’ dan ‘politik genderuwo’.

Menanggapi hal itu, pakar politik Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Siti Zuhro menjelaskan bahwa tujuannya kampanye politik sebenarnya memberi pencerahan ke publik, bukan sebaliknya.

Karena itu, sudah sepatutnya kedua kubu untuk mengedepankan kampanye yang mendidik masyarakat dwngan mengedepankan program kerja.

“Kampanye politik dalam konteks Indonesia sarat dengan pencerahan dan pembelajaran politik yang memadai. Dilakukan secara berkualitas, penuh kesantunan dan keadaban. Kampanye yang bisa dipertanggungjawabkan. Bukan kontestasi/kompetisi yang saling menyepelekan dan mengebawahkan,” kata Wiwik, sapaan karibnya, kepada telusur.co.id, Senin (12/11/18).

Saat ini kata Wiwik sebutan akrab Siti Zuhro sangat wajar jika ada kritik yang dilontarkan kepada lawan politik. Hal itu demi terpilih dalam kontestasi Pilpres.

Namun, sebuah kritikan tersebut tidak lantas saling ‘menghabisi’ lawan dengan semua cara. Apalagi, memakai cara-cara yang tidak beradab.

“Bersikap kritis terhadap rival sah-sah saja. Tapi bukan berarti menyakiti atau bahkan ‘menghabisi’. Upaya untuk mengalahkan rival dalam pemilu tidak masalah,” tegas Wiwik.

“Tapi, akan bermasalah kalau itu dilakukan dengan menghalalkan semua cara,” tandasnya.[far]

Bagikan Ini :