telusur.co.id – Sebanyak 96 orang insinyur muda para CPNS (Calon Pegawai Negeri Sipil) Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) diberangkatkan dari Lanud Halim Perdana Kusuma, Jakarta, Selasa (13/11/2018), ke Nusa Tenggara Barat (NTB).

Tujuannya mereka ialah menjadi tenaga pendamping masyarakat dalam membangun rumah warga yang memenuhi kaidah rumah tahan gempa di NTB.

Menteri PUPR Basuki Hadimuljono mengatakan pengiriman tambahan tenaga insinyur muda CPNS PUPR ini bertujuan untuk membantu percepatan rehabilitasi dan rekonstruksi rumah korban gempa termasuk mendorong pemulihan kehidupan sosial dan ekonomi masyarakat di NTB.

“Angkatan ketiga ini berjumlah 96 Orang terdiri atas 57 perempuan dan 39 laki-laki, dikirim untuk memperkuat dan mempercepat pembangunan rumah tahan gempa, baik RISHA (Rumah Instan Sederhana Sehat ), RIKA (Rumah Instan Kayu), maupun RIKO (Rumah Instan Konvensional),” kata Menteri Basuki saat melepas para insinyur muda.

Basuki berharap para insinyur muda PUPR yang bertugas sebagai tenaga pendamping untuk selalu menjaga komunikasi dan kerjasama yang baik dengan masyarakat. Mereka juga diminta untuk selalu menjaga kredibilitas dan integritas PUPR dalam mendampingi masyarakat. “Selain itu juga harus menjaga sopan santun dan selalu kompak,” pesan Basuki.

Basuki menjelaskan, tugas sebagai tenaga pendamping ini menjadi bagian penting tindak lanjut dari Instruksi Presiden Nomor 5 Tahun 2018 tentang percepatan rehabilitasi dan rekonstruksi pasca bencana gempa bumi di Lombok Barat, Lombok Utara, Lombok Tengah, Lombok Timur, Kota Mataram dan wilayah terdampak di NTB.

“Ini merupakan tugas khusus yang tidak akan dialami oleh semua PNS. Tugas lapangan seperti ini akan membentuk karakter Saudara sekalian ke depan dalam bekerja. Manfaatnya mungkin baru akan dirasakan dalam 10 tahun lagi,” ujarnya..

Dari tiga pilihan rumah tahan gempa, kata Basuki, RISHA menjadi model yang paling banyak dipilih warga untuk membangun kembali rumahnya. “Antusiasme masyarakat sangat besar untuk membangun RISHA sehingga kita perkirakan adanya kebutuhan produksi material untuk 300 unit rumah setiap hari. Namun saat ini material di lapangan masih kurang sehingga harus ditambah dari luar NTB,” katanya.[far]

Bagikan Ini :