telusur.co.id – Tim Kampanye Nasional (TKN) Jokowi-Ma’ruf Amin melaporkan pasangan calon presiden dan calon wakil presiden nomor urut 02 Pranowo Subiato – Sandiaga Uno ke Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) RI.

Pasangan Prabowo – Sandi dilaporkan karena diduga telah melakukan mobilisasi dan melibatkan anak-anak untuk melakukan kampanye.

“Karena kami lihat ada penyampaian yang dilakukan seorang anak, narasinya itu sungguh merugikan kami. Kami lihat kalimatnya ‘siap ganti presiden’ dan ‘eh lu pade jangan lupa pilih nomor 2, lupain yang nomor 1’,” kata Direktur Hukum dan Advokasi TKN, Ade Irfan Pulungan di kantor Bawaslu RI, Thamrin, Jakarta Pusat, Selasa (13/11/18).

Dikatangan Ade, kalimat tersebut diucapkan seorang anak saat aksi damai bela tauhid beberapa waktu lalu. Yang jadi permasalahan, kata dia, bukan aksi bela tauhidnya, tapi adanya pelibatan anak yang patut diduga dilakukan oleh tim paslon 02.

Pihaknya menganggap, hal ini sudah melanggar Pasal 280 ayat 2 huruf k mengenai pelanggaran terhadap larangan melibatkan orang yang tak berhak memilih atau anak-anak.

Dan juga pasal 492 UU 7 tahun 2017 tentang pemilihan umum yang bunyinya setiap org yg dengan sengaja melakukan kampanye pemilu di luat jadwal yang telah ditetapkan KPU provinsi dan kabupaten untuk setiap peserta pemilu.

“Dua pasal ini yang kami sampaikan ke Bawaslu, kami menganggap itu patut diduga dilakukan oleh paslon 02. Kami duga ada mobilisasi yang dilakukan paslon 02 dan tim kampanyenya terhadap anak-anak yang belum mempunyai hak pilih,” terangnya.

Tak hanya itu, dia juga menilai, tim paslon 02 telah melakukan kampanye di luar jadwal. Terlebih karena ada orang dewasa di situ, tetapi ada proses pembiaran yang patut diduga dimobilisasi oleh paslon capres 02.

Untuk melengkapi laporannya, Ade membawa barang bukti sebuah CD, yang isinya berupa foto dan video orasinya. Yang menyampaikan kalimat-kalimat seperti disebutkan.

“Jadi kenapa dia menyampaikan kalimat itu. Itu yang harus kami minta Bawaslu untuk segera dilakukan penyelidikan. Karena dia sampaikan itu, sebuah ajakan. Bagi kami itu sebuah kampanye yang di luar jadwal. Karena di situ ada massa, ada orang, ada kerumunan, pasti orang mendengar kedua video itu sudah viral. Di berbagai media medsos, kalau orang melihatnya pasti orang terpengaruh,” demikian Ade.[far]

Bagikan Ini :