Dr.H. Joni/telusur.co.id

Maulid atau dalam bahasa sosial adalah  hari kelahiran, merujuk kepada kelahiran Nabi Muhammad Sallallahu ‘Alaihi Wasallam (SAW) pemimpin agung yang menjadi suri tauladan manusia sepanjang masa. Maulid merujuk pada momentum kelahiran Sang Utusan, pembawa Rahmat bagi semesta alam, di semua tempat dan sepanjang waktu di seantero jagat. Mulai dari masa lalu, masa kini dan masa mendatang. Nilai keabadian yang didasarkan kepada keyakinan keluhuran dan kebenaran ajaranNya.

Maulid Pertanda Jaman

Berdasarkan perspektif ajaran, apa yang dibawa Muhammad SAW adalah ajaran universal yang berlaku di sepanjang masa. Tidak lekang oleh waktu dan tidak lapuk oleh pergantian jaman. Tetap relevan untuk pedoman hidup, dan itu membuktikan ajaran Islam benar benar datang dari Allah semesta Alam.

Berbeda dengan ajaran manusia, pasti hanya berlaku untuk sementara waktu yang akan tertinggal seiring pergantian masa. Hanya sesuai dengan masa dan kawasannya yang sangat terbatas.

Menoleh kepada sejarah, kelahiran Muhammad SAW secara fisik merujuk pda kalender bertanggal 12 Rabiul-Awal Tahun 571 masehi. Dalam penanggalan Arab, yang kemudian menjadi ruijukan penanggalan Islam  kelahiran Nabi Muhammad adalah pada bulan Maulid atau Robiul Awal dimaksud. Untuk itu peringatan hari kelahiran juga dilakukan pada waktu yang sama yaitu di bulan Rabiul Awal, bertanggal 12 (duabelas).

Menapaktilasi kelahiran sang junjungan, senantiasa dilakukan dengan mengenang, menceritakan proses, waktu, tempat, saat kelahirannya, dan yang terpenting adalah mengenang perjuangan Nabi, dalam menegakkan ajaran Islam. Perjuangan yang dilandasai kegigihan itu kiranya menjadi contoh bagi segenap penghuni bumi. Khadirannya di alam fana ini, walaupun terejadinya  di negara Arab, tetapi ajarannya melintasi batas ruang dan waktu. Tepatnya untuk manjadi rahmat segenap penjuru dan penduduk bumi. Keberadannya adalah Rahmatan lil ‘Alamin (rahmat bagi semesta alam).

Di dalam kelahirannya, secara moralitas  suku bangsa khususnya Quraisy waktu itu ditandai dengan terjadinya dekadensi moral. Terjadi dgradasi moral yang sedemikian parah. Berbagai perkara yang bertentangan dengan ajaran agama sebelumnya, yatiu agama Nabi Ibrahim dijauhi. Justru yang berkembang adalah sikap dan sifat jahiliyah. Sifat dan sifat yang penuh dengan nilai yang tidak sejalan dengan ajaran agama yang hanif (lurus).

Itulah sebabnya, kendatipun sejatinya degradasi moral ketika diukur dari ajaran agama terjadi di senatero jagat, Muhammad SAW lahir di kota Mekah, Saudi Arabia. Kelahirannya sebagaimana dinukilkan dalam Quran adalah sebagai pembawa kabar baik dan optimistis bagi segenap penduduk bumi. Pertanda jaman inilah yang menjadi tonggak sangat penting dalam revolusi moral manusia.

Kepada manusia diajarkan nilai kesantunan, ketundukan yang sepenuhnya terhadap ajaran Illahi dan melaksanakan seluruh ajarannya tanpa pilih pilih. Pertanda jaman ini kemudian terus berkembang hingga hari ini, ketika dalam perspektif sosial di berbagai belahan dunia, termasuk di Indoneia diliputi konflik. Konflik yang tentunya sesuai dengan karakter dari suku dan bangsa masing masing negara, sebagai akibat dari benturan berbagai kepentingan sosial yang demikian dinamis perkembangannya.

Makna di Tahun Politik

Tahun ini, bangsa Indonesia akan menghadapi dua momentum sangat penting, yaitu pemilihan legislatif yang akan memilih person yang menjadi wakil rakyat. P;ada wakil rakyat inilah yang nantinya membela dan  memperjuangkan kepentingan rakyat. Mereka yang pada tahun depan, tepatnya bulan April – dan itu tidak lama lagi akan mewakili rakyat sesuai dengan komitmen yang disampaikan pada saat kampanye.

Pada saat yang sama, saat itu juga akan melakukan pemilihan terhadap pimpinan tertinggi negara, presiden dan wakil presiden untuk priode lima tahun mendatang. Berbagai persiapan dan merupakan proses pemilihan itu sedang berlangsung sat ini. Masa kampanye adalah saat yang begitu monumental, karena dengan itu masyarakat diperkenalkan dan  kemudian akan menjatuhkan pilihan kepada satu di antara dua pasang calon.

Itulah makna tahun politik, dan pada  saat ini pemilihan pemimpin itu mengarah kepada kepemimpinan nasional tertinggi. Maka nilai maulid yang merupakan hari kelahiran ini menemukan momentumnya. Momentum dimaksud adalah pada pencarian pemimpin, yang pada masa Rasulullah SAW diturunkan oleh Allah Robbul jalil, tetapi untuk kepemimpinan nasional ini dicari, dengan cara dipilih. Sama sekali tidak bermaksud membandingkan, hanya menekankan kepada satu  kondisi yaitu pemimpin dan di Indonesia konteksnya adalah memilih pemimpin.

Bertemunya adalah pada pencarian dan akhirnya penemuan sang pemimpin. Untuk itulah dalam refleksi maulid ini,  relevan untuk menjadikan Nabi Muhamma sebagai patokan atau suri taulaan. Sifat dan sikap hidup yang teruji bersdama berlangsungnya sang waktu, karakter kepemimpinan Rasulullah SAW yang kiranya dapat dijadikan rujukan di tahun politik ini,  untuk memilih pemipin rakyat ada empat. Yaitu sifat sidiq, amanah, tabligh dan fatonah.

Pada kaitan ini, Shiddiq yang artinya benar. Bukan hanya perkataannya yang benar, tapi juga perbuatan yang sejalan dengan ucapannya, alias seia sekata. Nabi sangat terkenal dengan kejujurannya, sifat mulianya ini dipertegas dalam Al-Qur’an, Dan tiadalah yang diucapkannya itu [Al -Qur’an As-Sunnah] menurut kemauan hawa nafsunya. Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan kepadanya sebagai pegangan hidup bagi segenap insan di alam fana.

Prinsip mendasar ini yang harus menjadi prinsip seorang politikus dan pemimpin, mengedepankan konsep kejujuran daripada pencitraan yang lebih banyak bohongnya. Atau  lebih tepatnya, lain yang kelihatan lain pula kenyataannya, penuh dengan kepura-puraan. Kala depan khlayak sangat santun dan berwibawah, namun ketika memutuskan keputusan yang berhubungan dengan rakyat banyak lebih pro kepada kepentingan pribadi dan orang-orang sekitarnya, bahkan kerap keputusan yang diambilnya hanya mengikuti kehendak sang istri.

Pendisip mendasar kedua adalah Amanah. Artinya benar-benar bisa dipercaya. Jika satu urusan diserahkan kepadanya, niscaya orang percaya bahwa urusan itu akan dilaksanakan dengan sebaik-baiknya. Oleh karena itulah Nabi Muhammad dijuluki oleh penduduk Mekkah dengan gelar Al-Amin, yang terpercaya, jauh sebelum beliau diangkat sebagai Rasul. Apa pun yang diucapkan, penduduk Mekkah mempercayainya karena beliau bukan tipe pembohong.

Ketiga. Tablig, artinya menyampaikan. Segala firman Allah yang ditujukan oleh manusia, disampaikan oleh Nabi. Tidak ada yang disembunyikan meski itu menyinggung dirinya sendiri

Keempat. Fathonah, artinya cerdas dan cakap. Mustahil Nabi itu bodoh atau jahil. Dalam menyampaikan firman Allah dalam Al-Qur’an sebanyak 6.236 ayat, disusul kemudian dengan menjelaskan puluhan ribu hadis, pasti membutuhkan kecerdasan yang luar biasa. Nabi harus mampu menjelaskan firman-firman Allah kepada kaumnya sehingga mereka tertarik  memeluk Islam.

Keempat sifat itu hendaknya dijadikan sebagai pengukur bagi pemilihan pemimpin di tahun politik ini. Sekurangnya  rakyat Indonesia bisa mencermati dari keempat sifat itu apakah dimiliki oleh seorang yang akan menjadi pilihannya. Artinya memilih hendaknya sesuai dengan karakter yang empat itu, dalam arti pemimpin pilihan hendaknya dalam kehiduapnnya berorientasi kepada keempat karakter dimaksud.

Penulis : H. Joni

Bagikan Ini :