Ketua Umum Partai Demokrat, Susilo Bambang Yudhoyono/Net

telusur.co.id – Perseteruan antara Presiden Amerika Serikat Donald Trump dengan Presiden Perancis Emmanuel Macron terkait nasionalisme menggelitik bekas presiden Indonesia, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY).

Dalam akun twitternya, SBY mengungkapkan ketertarikannya membahas mengenai perseteruan Trump dengan Macron. SBY mengaku tertarik mengikuti serang-menyerang antara pemimpin Negara Barat tentang nasionalisme, utamanya Trump (AS) lawan Macron (Perancis).

Kata SBY, yang satu mengutamakan nasionalisme dan patriotisme ketimbang globalisme. Yang lain kedepankan globalisme dan mengecam nasionalisme.

Negara Barat definisikan sendiri apa itu nasionalisme, yang dinilai tak baik. Sementara negara Non-Barat, termasuk Indonesia, punya definisi lain. “Saya berpendapat keduanya tak perlu dipertentangkan. Globalisme (dulu internasionalisme) dan nasionalisme bisa akur dan berdampingan,” ungkap SBY, Rabu.

Nasionalisme perlu diartikan sebagai cinta bangsa. Setiap bangsa tentu punya rasa, semangat, dan wawasan kebangsaannya masing-masing. Andaikata kini negara-negara hidup dalam perkampungan global (global village), tetap saja miliki rumah sendiri. “Rumah itulah kebangsaannya.”

Tak salah jika ada yang katakan kepentingan bangsalah yang harus diutamakan, sepanjang tidak merugikan dan memusuhi bangsa lain. “Saya setuju dengan pandangan Bung Karno. Hakikatnya nasionalisme dan internasionalisme miliki hubungan positif dan tak harus bermusuhan.”

“Yang penting kita tak anut narrow nationalism yang tak peduli terhadap kepentingan bersama (shared interests) bagi dunia yang damai, adil, dan sejahtera. Partai Demokrat (yang saya gagas dan dirikan) berpaham Nasionalis-Religius. Partai kebangsaan yang ber-Ketuhanan, menuju Indonesia maju,” tandansya. (ham)

Bagikan Ini :