Diskusi bertajuk bertajuk "Reuni Akbar Alumni 212, Melacak Motif, Menimbang Implikasi, Sosial Politik" di kawasan Cikini, Jakarta, Jumat (16/11/18). FOTO: telusur.co.id/Tio Pirnando

telusur.co.id- Peraturan Daerah (Perda) bernuansa syariah akhir-akhir ini hangat diperbincangkan di publik. Hal ini, usai Ketua Umum Partai Solidaritas Indonesia (PSI) Grace Natalie menyatakan, jika partainya tidak akan pernah mendukung Perda yang berlandaskan agama.

Terkait itu, Cendekiawan Muslim Luthfi Assyaukanie menilai, korban pertama dari penerapan Perda bernuansa agama ialah kaum perempauan. Karenanya, saat lahirnya Perda tersebut, masyarakat harus mengkritisi.

“Harusnya masyarakat mengkritisi itu (Perda Syariah). Karena sudah terbukti di banyak sekali daerah bahwa Perda itu jelas merugikan masyarakat sendiri terutama kaum perempuan. Karena korban pertama dari Perda berbasis agama adalah perempuan,” ujar Luthfi di kawasan Cikini, Jakarta, Jumat (16/11/18).

Luthfi menjelaskan, salah satu contoh Perda yang merugikan bagi kaum perempuan adalah Provinsi Banten. Di sana, kata dia, perempuan tidak dizinkan untuk keluar diatas jam 10 malam. Padahal, masih banyak para perempuan yang bekerja pada jam tersebut.

“Perempuan pulang malam, nggak semuanya bekerja yang tidak baik. Asumsi itu keliru. Perspektif negatif,” imbuhnya.

Oleh sebab itu, Lutfi menegaskan, adanya Perda syariah justru akan melahirkan intoleransi dan diskriminatif terhadap agama.

“Misalnya, ada kekuatan islam, agama lain ingin mendirikan tempat ibadah. itu pasti akan sulit sekali sebuah daerah aturan berbasi agama,” tandansya.[far]

Bagikan Ini :