Capres Prabowo Subianto (kanan) dan Cawapres Sandiaga Salahuddin Uno (kiri)/telusur.co.id

Oleh : Dr. Chazali H. Situmorang*)

 

Calon Wakil Presiden Nomor 2 Sandiago Uno, di Bandung pada Rabu 14 Nov.2019, mengeluh tentang cekaknya dana kampanye yang dimiliki, tidak banyak pengusaha besar yang mau menyumbang. Lebih banyak mendapatkan sumbangan dari masyarakat, emak-emak dengan jumlah yang aduhai membuat hati menyayat bagai sembilu, ya antara 2 juta , 5 juta dan 10 juta rupiah.

Tapi Sandi, You harus bangga dan bahagia, karena uang yang diberikan itu, super ikhlas, dan berkah. Rakyat tidak buta dan tidak budek, seperti yang disebut Kiyai Ma’ruf Amin. Bahkan juga Allah SWT, tidak tidur. Dengan keterbatasan dan serba kekurangan, anda sudah punya pengalaman panjang sebagai pebisnis yang jungkir balik. Muncul – tenggelam, muncul lagi, tenggelam lagi dan muncul lagi.

Waktu masih panjang 5 bulan lagi masa kampanye. Saya memang tidak habis fikir, kenapa masa kampanye yang begitu panjang. Semuanya serba terganggu. Penyelenggaraan pemerintahan dan pembangunan terganggu, masyarakat tidak nyaman, terbelah dua, ekonomi meriang, dan fitnah, hoax menjadi semakin bergantayangan dalam bentuk genderuwo, jin, syetan, dan hantu-hantu yang sering dengan wajah yang berubah-rubah.

Ada yang berwajah alim, berhati iblis. Ada yang hatinya berbulu tetapi berjubah malaikat. Ada yang mejeng terus dengan mengambil semua momentum untuk pencitraan. Di media elektronik televisi, hampir setiap hari ditampilkan tim kedua kubu yang saling serang, saling membantah, saling “ngenyek” (isitlah medan). Tidak ada pemikiran berbobot yang dapat ditonton. Hebatnya sebagian rakyat menikmati dan ikut terpengaruh dengan berbagai pertengkaran di media elektronik tersebut, yang berlanjut di warung kopi, dan lapo-lapo tuak.

Dalam situasi seperti tersebut diatas, terlihat kubu Prabowo – Sandi (PADI), sudah mulai “lempar handuk”. Di mulai dengan pernyataan Sekjen Gerindra beberapa waktu lalu tentang sulitnya mendapatkan pemberitaan media cetak dan elektronik untuk mengkampanyekan Capres – Cawapres Nomor 2. Disusul kemudian pernyataan Sandi sudah merasa dhuafa karena ketiadaan dana untuk kampanye khususnya penyediaan alat peraga (APK).

Kalau sudah ada keluhan seperti itu yang disampaikan oleh kontestan sebagai Calon Presiden dan Calon Wakil presiden dalam suatu kempanye yang cukup panjang, tentu ada sesuatu yang salah dalam penyelenggaraan kampanye saat ini.

Keluhan tersebut, menggambarkan situasi kompetisi yang tidak seimbang. Ada sesuatu yang salah dalam aturan main yang diterapkan KPU. Ada persoalan moralitas yang hilang. Yaitu moralitas rasa malu jika kampanye menggunakan fasilitas negara yang sulit dikenakan sanksi karena adanya celah / kelamahan paraturan.

Sandi, sejak di tetapkan sebagai Calon Wapres mendampingi Prabowo, langsung mengundurkan diri sebagai Wakil Gubernur DKI Jakarta. Padahal dia bisa hanya “non aktif”.

Ada Calon Wakil Presiden Kiyai Ma’ruf Amin mendampingi Calon Presiden Jokowi Widodo, tidak mau berhenti sebagai Ketua Umum MUI, sehingga MUI menjadi lembaga yang tidak lagi mampu menampilkan wajah independen dan pengawal kepentingan Ummat secara keseluruhan. Akibatnya MUI di daerah terbelah. Dan dikhawatirkan dalam menerbitkan Fatwa-Fatwa tidak ada algi ummat yang patuh dengan Fatwa MUI.

Yang bingung rakyat pada kampanye saat ini, terkait apa yang dilakukan Presiden Jokowi. Susah membedakan kapan beliau sedang bertugas sebagai Presiden, dan kapan sebagai Calon Presiden. Sebab jabatan Presiden tidak lepas, terus melekat kapan saja.

Walapun Pak Jokowi menyatakan kampanye tidak menggunakan fasilitas negara, pasti rame-rame Gubernur, Bupati/Walikota, Pengusaha jika datang ke daerah akan memberikan fasilitas. Media cetak dan elektronik akan meliputi secara jor-joran.

Jangan heran, jika kita tidak mendengar keluhan yang sama tentang kesulitan dana di kubu Jokowi – Ma’ruf. Kekuatan dana dan fasilitas, tentu tidak terhingga. Kalau isitlah prokemnya uangnya tidak berseri. Sumbernya pasti jelas dari manusia, tetapi halal atau tidak hanya Allah yang bisa menjawabnya.

Kondisi ini bukanlah sesuatu yang baru. Ingat dulu, sewaktu kampanye SBY sebagai Calon Presiden, khususya di periode kedua. Alat Peraga Kampanyenya luarbiasa, bentuk dan modelnya sama diseluruh wilayah, model panggungnya juga serba nuansa baru dengan bentuk dan model yang sama. Konon kabarnya, sudah disiapkan secara terpusat, daerah tinggal meng-install- saja.

Kehebatan petahana ini, bukan saja fasilitas dan finansial, tetapi juga keberpihakan media elektronik dan juga media cetak. Kita tidak sudah berdebat lagi soal ini, karena kasat mata, ditonton dan didengar rakyat. Tetapi yang membuat petahana gelisah, adalah kekuatan media sosial yang bertolak belakang dengan media cetak dan elektronik ( televisi).

Sebagai petahana yang amannya tingkat elektabilitas diatas 60%, ternyata sampai sekarang ini hampir semua lembaga survey menyatakan sekitar 50-an persen. Bandingkan dengan masa SBY periode kedua, dengan tingkat elektabilitas sekitar 65%.

Kedua calon Presiden dan Wakil Presiden sebenarnya sama-sama gelisah. Yang nomor satu, gelisah karena dengan potensi yang luar biasa, semua sudah dikerahkan. Serangan udara, darat, laut sudah dlakukan, tetapi tingkat elektabilitas koq tidak bisa seperti SBY. Kira-kira begitulah pikiran mereka. Mereka menjadi panik, sebab kalau kalah apa kata dunia.

Terbayanglah resiko orang yang kalah. Satu-satu kawan akan menghilang. Pengusaha tiarap, pejabat-pejabat akan berguguran, kelompok kelompok masyarakat dan ormas tidak henti-hentinya menghujat, dan bahkan ada yang menyeretnya keranah hukum. Itu sudah hukum dunia. Kalau pola perjuangan untuk mencapai kemenangan sudah melampui kepatutan.

Calon nomor dua, juga akan dilanda kegelisahan. Kemenangan yang akan dapat diraih, jangan sampai terhambat karena kekurangan amunisi. Sebab pragmatisme masyarakat sudah pada fase stadium IV.

Ketidak berpihakan media cetak dan elektronik terhadap si nomor dua, memang dapat memperburuk arus informasi kepada para pendukungnya. Apakah hal tersebut dapat diimbangi dengan media sosial, saat ini sedang dalam proses pertempuran untuk membawa jagoannya sebagai juara.

Tetapi kegelisahan tersebut, juga tidak terlepas dari perasaan bagaimana nasib bangsa, nasib pribumi, dan nasib ummat kedepan. Kondisi ini sudah disadari oleh para Ulama yang berada dijalur istiqamah, untuk bertekad mengajak ummat harus menggunakan hak pilihnya, dan menjadikan si nomor 2 sebagai juara. Gerakan ini bergerak terus bagai bola salju yang semakin membesar dan menggilas semua benda yang menghalangi baik manusia, maupun begu ganjang.

Lima bulan mendatang, apa pun bisa terjadi. Allah maha membolak balikkan hati manusia. Bukti sudah diberikan Allah dalam pemilihan Gubernur DKI Jakarta.

Kita berharap dan kita berdoa, dengan keluhan Cawapres Sandi ketiadaan dana, dan merasa dirinya sudah dhuafa, didengar Allah SWT, dan menggerakkan hati ummat bangsa ini, untuk membuat gerakan memhimpun dana, harta, fasilitas, tenaga, fikiran, sebagai modal perjuangan untuk menghantarkan Prabowo dan sandi sebagai Presiden dan Wakil Presiden mendatang ini.

Berpihaklah bagi mereka yang mempunyai hak untuk berpihak sesuai dengan hati nuraninya. Netrallah bagi siapapun karena jabatan, ataupun tugas pokok dan fungsinya harus netral, mengawal demokrasi, menjaga keamanan, dan menegakkan hukum.

Dalam kontestasi Pilpres, pilhannya cuma dua, menang atau kalah. Tidak ada istilah seri. Yang menang diharapkan merangkul yang kalah. Dan yang kalah menghormati yang menang. Pada saat itulah layar panggung demokrasi ditutup. Dilanjutkan dengan membuka layar panggung roda pemerintahan untuk mensejahterakan rakyat.[***]

*) Pemerhati Kebijakan Publik, Dosen FISIP     Universitas Nasional (Unas).

Bagikan Ini :