Anggota DPD RI, GKR Hemas/Net

telusur.co.id – Pada 16 Nopember 2018 merupakan Hari Toleransi Internasional, hari yang hendaknya dijadikan momentum bagi masyarakat untuk meneguhkan tekad mencegah ketidakadilan, kekerasan, diskriminasi, dan marginalisasi di negeri ini.

Begitu disampaikan anggota DPD RI, GKR Hemas dalam keterangan tertulis, Minggu (18/11/18).

“Sebab, keragaman Agama, bahasa, budaya, dan etnis yang kita miliki bukanlah dalih untuk memicu konflik, tapi sebagai pelengkap yang memperkaya kita semua,” ucap dia.

Istri dari Gubernur DIY Yogyakarta ini berharap, para caleg dan pendukung Calon Presiden di pemilu 2019 hendaknya lebih menahan diri dalam berkampanye, sehingga bangsa ini dapat melewati tahun politik dengan aman dan damai.

“Sebab, kampanye yang dilakukan dengan cara menyerang lawan politik atau mengedepankan politik identitas cenderung memicu konflik dan permusuhan,” terang dia.

“Politik identitas hanya memunculkan politik yang mementingkan relasi emosional seraya merendahkan pertimbangan rasional. Sehingga pilihan yang diambil lebih karena bersifat dorongan primordial yang kurang mengedepankan pilihan karena pertimbangan kemaslahatan umum,” tambah dia.

Selain itu, dirinya juga meminta di tahun politik ini tidak ada peristiwa-peristiwa yang berhubungan dengan eskalasi intoleransi dan diskriminasi terhadap kelompok masyarakat rentan.

Penyelenggara pemilu baik KPU maupun Bawaslu juga diharapkan lebih ketat menegakkan aturan. Tidak ada pembiaran terhadap isu-isu SARA. Begitu pun penegakan hukum harus adil tidak terkesan tebang pilih.

“Sekali lagi, merefleksikan Hari Toleransi Internasional, diversitas budaya dan agama adalah sebuah keniscayaan, bukan tujuan kita untuk menyeragamkan,” kata dia.[far]

Bagikan Ini :