Ketua DPR, Bambang Soesatyo saat memberikan sambutan dalam acara World Parliamentary Forum on Sustainable Development (WPFSD) di Bali, Rabu (12/09/18).

telusur.co.id- Ketua DPR Bambang Soesatyo mengatakan, kendati nilai tukar rupiah menguat sejak awal pekan ketiga November 2018, pemerintah dan Bank Indonesia (BI) diminta untuk tetap antisipatif.

“Nilai tukar valuta masih akan fluktuatif karena pasar uang terus dibayang-bayangi oleh rencana bank sentral Amerika Serikat, Federal Reserve (Fed), menaikkan suku bunga acuannya, Fed Fund Rate (FFR), hingga tahun depan,” kata Bamsoet dalam keterangannya, Minggu (18/11/18).

Dia menjelaskan, akhir pekan kedua November 2018, rupiah digambarkan sebagai valuta paling perkasa di Asia karena mengalami penguatan sampai 70 poin, atau 0,48 persen terhadap dolar AS. Dimana, pada Jumat (16/11/18), nilai tukar rupiah sudah memasuki level Rp 14.595 dan Rp 14.665.

Menurut dia, proses penguatan nilai tukar rupiah saat ini tentu tidak bisa dilepaskan dari langkah BI menaikkan bunga acuan sebesar 25 basis poin (bps) menjadi 6 persen, belum lama ini. Namun, proses penguatan rupiah saat ini diasumsikan temporer. “Rupiah–dolar AS pada dasarnya belum menemukan keseimbangan baru, terutama karena Fed masih  akan menaikkan bunga acuan ke level 3,25 persen hingga 2019, dari posisi dua persen saat ini,” ungkapnya.

Jika proses penguatan rupiah saat ini berhasil menumbuhkan optimisme berbagai kalangan, namun, kata Bamsoet, nilai tukar valuta diperkirakan masih akan fluktuatif. Karena, pasar masih terus mengantisipasi langkah-langkah the Fed berikutnya.

“Karena itu, pemerintah  dan BI pun diharapkan selalu antisipatif menghadapi potensi gejolak nilai tukar di pasar uang,” tegasnya.

Politikus Golkar ini meyakini, bahwa baik BI maupun pemerintah sudah menyiapkan langkah antisipatif guna meminimalisir potensi arus keluar dana asing (Capital outflow). Namun, jauh lebih penting adalah menyiapkan efektivitas strategi berkomunikasi dengan publik agar depresiasi rupiah berikutnya dan capital outflow tidak menimbulkan kegelisahan publik.

“Ketika perekonomian global masih menghadapi ketidakpastian seperti sekarang ini, menjaga optimisme publik menjadi sangat  penting. Selain adanya potensi gejolak nilai tukar valuta, perekonomian global terus diganggu oleh perang dagang AS versus Tiongkok. Apalagi, perang dagang bisa melebar jika AS juga membidik Jepang,” tandasnya.

Bagikan Ini :