telusur.co.id – Masyararaka Lawang Kidul, Kabupaten Muara Enim, Sumatera Selatan, (17/11/ 18), mendapat hiburan yang tak biasanya. Pada malam Minggu, di Lapangan Air Paku digelar pertunjukan wayang kulit.

Pertunjukan kesenian khas Jawa itu dipertontonkan kepada masyarakat untuk mensosialisasikan Pancasila, UUD NRI Tahun 1945, NRKI, dan Bhinneka Tunggal Ika.

Sebagai acara yang digagas oleh MPR, tampak hadir anggota MPR dari Fraksi Partai Gerindra Edhy Prabowo, Kepala Bagian Pemberitaan, Hubungan Antar Lembaga dan Layanan Informasi Biro Humas MPR Muhamad Jaya, serta Kepala Kesbangpol Muara Enim Andi Wijaya dan Wakil Ketua DPRD Provinsi Sumatera Selatan Kartika Sandra Desi.

Dalam sambutan, Edhy Prabowo mengakui wayang kulit bukan kesenian dari Muara Enim, meski demikian hal itu tak menjadi masalah untuk menghibur dan mensosialisasikan Empat Pilar kepada masyarakat di sana. “Warga di sini juga banyak kok yang menyukai wayang kulit”, ungkapnya.

Dijelaskan pria asli Muara Enim itu, kesenian khas Jawa tak hanya wayang kulit yang digemari, Reog Ponorogo pun berkembang di sana. “Saya telah bertemu dengan banyak Paguyuban Reog Ponorogo di Sumatera Selatan”, ungkapnya.

Paling penting bagi Edhy Prabowo adalah menjalin silaturahmi dengan masyarakat lewat Sosialisasi Empat Pilar. “Sosialisasi Empat Pilar rutin digelar oleh MPR”, tuturnya.

Karena, sosialisasi nilai-nilai luhur bangsa perlu disegarkan kembali kepada masyarakat. Hal itu, lantaran saat ini banyak tantangan dan ancaman yang menghadang bangsa Indonesia.

Sebelumnya, Muhamad Jaya dalam sambutan mengatakan sosialisasi dengan metode pertunjukan wayang kulit menunjukan MPR mencintai kebudayaan yang ada.

Dikatakan kesenian dan kebudayaan yang ada tak hanya sekadar sebagai hiburan namun juga mempunyai nilai-nilai persatuan.

Selepas pemaparan Empat Pilar dan sebelum pertunjukan dimulai, Edhy Prabowo menyerahkan sosok lakon wayang kepada dalang Ki Purwoko Purwo Pandoyo. Dalang dari Lubuk Linggau.

“Penyerahan sosok lakon ini sebagai tanda pagelaran dimulai,” ujarnya. Prosesi itu disambut meriah para penonton dengan tepuk tangan.

Pada malam itu pertunjukan dengan lakon ‘Sekar Mbangun Jiwo’. Lakon ini menceritakan perebutan kekuasaan di Kerajaan Astina antara Pandawa dan Kurawa. Perebutan ini bahkan melibatkan sosok-sosok besar seperti Semar dan Brahmana. Berkat nasehat dan pitutur Semar, akhirnya kelompok yang memperjuangkan kebenaran dan keadilan, yakni Pandawa, kemenangan itu diraihnya. [Far]

Bagikan Ini :