Ketua DPP Partai Golkar, Ace Hasan Syadzily/Net

telusur.co.id – Pasangan calon presiden dan calon wakil presiden Prabowo Subianto-Sandiaga Uno dikenal sebagai pasangan anti impor.

Namun, pasangan nomor pemilihan dua itu, disebut-sebut bakal merekrut guru dari luar negeri. gunanya meningkatkan kualitas pendidikan.

Hal itu, sebagaimana disampaikan Wakil Ketua Badan Pemenangan Nasional Prabowo-Sandi, Mardani Ali Sera. Bahkan, Mardani menyebut peluang guru yang akan direkrut di antaranya dari Eropa dan Amerika.

Rencana itu pun mendapat kritik dari politikus partai Golkar, partai yang mendukung Joko Widodo dan Ma’ruf Amin di Pilpres 2019.

Adalah Ace Hasan Syadzily yang menyindir niat Prabowo-Sandi untuk merekrut guru dari Eropa dan Amerika bila terpilih.

Ketua DPP Partai Golkar, menyinggung janji ‘tidak impor’ Prabowo. Ia pun mempertanyakan kepada Prabowo, kurang apa kualitas guru yang dimiliki Indonesia saat ini.

“Katanya anti impor! Kok guru saja diimpor dari Eropa,” kata Ace kepada wartawan, di Jakarta, Rabu (21/11/18).

Ace mengatakan, untuk meningkatkan kualitas pendidikan di Indonesia tak perlu mengimpor guru dari negara lain. Baginya, cukup guru dari Indonesia dikirim untuk belajar ke luar negeri.

“Soal peningkatan kompetensi guru, kan kita dapat menyekolahkan guru-guru kita ke luar negeri. Sudah banyak guru kita yang disekolahkan ke luar negeri untuk meningkatkan kompetensi mereka,” kata dia.

Selain berencana impor guru, pasangan Prabowo-Sandi sebagaimana dikatakan Mardani, juga bakal menaikkan gaji guru hingga Rp 20 juta per bulan.

Terkait itu, Ace yang saat ini duduk sebagai Anggota DPR RI mengatakan, pemerintah saat ini juga tengah berupaya terus meningkatkan kesejahteraan para guru.

Namun, penaikan juga harus selaras dengan kemampuan daerah. “Soal gaji guru, saat ini kita sudah semakin ditingkatkan taraf kesejahteraannya. Soal kesejahteraan guru juga terkait dengan kemampuan keuangan pemerintah daerah.”

Sebelumnya Prabowo-Sandiaga mewacanakan untuk menaikkan gaji guru hingga Rp 20 juta per bulan. Selain itu, pasangan ini juga akan merekrut guru dari luar.

Wakil Ketua Badan Pemenangan Nasional pasangan Prabowo-Sandi, Mardani Ali Sera mengatakan, mengimpor guru dari luar negeri gunanya untuk meningkatkan kualitas pendidikan. Dia menyebut peluang guru yang akan direkrut di antaranya dari Eropa dan Amerika.

“Kita pengen attract guru-guru dari Finlandia dari Eropa dari Amerika untuk memperbaiki kualitas pendidikan kita disesuaikan dengan kompetensinya,” kata Mardani, hari ini.

Berbeda dengan Prabowo-Sandi yang ingin merekrut guru impor, Presiden Joko Widodo pagi tadi menggelar Rapat Terbatas, di Istana Negara, Bogor, Jawa Barat.

Dalam Ratas, beberapa menteri kabinet dikumpulkan, untuk membahas peningkatan bidang Sumber Daya Manusia (SDM), termasuk tenaga pendidik atau guru.

Saat Ratas, Presiden menyampaikan mengenai Pembangunan SDM untuk Akselerasi Pertumbuhan Ekonomi.

“Ratas pagi ini akan kita matangkan mengenai pembangunan SDM dalam rangka akselerasi pertumbuhan ekonomi. Kita akan masuk ke tahapan besar berikutnya yaitu investasi di bidang SDM,” kata Jokowi.

“Kita harus bisa menjadikan 260 juta penduduk Indonesia sebagai sebuah kekuatan besar negara kita, bukan hanya untuk mendukung akselerasi pertumbuhan ekonomi tetapi juga untuk mengejar kesejahteraan, untuk mengejar kemajuan bersama.”

Menurut Presiden, kuncinya ada dua, yang pertama, perbaikan sistem pendidikan, terutama melalui revitalisasi pendidikan vokasi yang disesuaikan dengan kebutuhan industri dan perkembangan teknologi.

Ia menyebutkan, dalam 4 tahun terakhir ini pemerintah telah memulai langkah-langkah perombakan dan perbaikan di dalam sistem pendidikan vokasi kita. Namun diakui Presiden, jika langkah itu belum secara full melakukan perombakan besar-besaran.

“Perombakan yang kita lakukan di SMK (Sekolah Menengah Kejuruan) baik dalam kurikulum maupun penataan kompetensi terutama untuk guru-guru, saya melihat juga sudah dimulai. Tetapi sekali lagi ini memerlukan sebuah perombakan yang besar, dan kita minta mulai tahun depan betul-betul dilakukan secara besar-besaran,” kata Kepala Negara.

Kemudian yang kedua, peningkatan keterampilan pencari kerja dan juga pekerja melalui pelatihan vokasi dan program sertifikasi. Presiden meminta tahun depan juga dilakukan besar-besaran mengenai ini.

“Saya melihat misalnya di Kementerian PUPR, program sertifikasi untuk para pekerja, saya melihat juga sesuatu yang sangat bagus, tetapi memang jumlahnya masih kecil,” kata Presiden.

Disampaikan Presiden, program sertifikasi ini perlu melibatkan pemerintah, dunia usaha, dan dunia pendidikan termasuk melibatkan pesantren-pesantren, sehingga diharapkan para santri bukan hanya mendapatkan pendidikan yang berkaitan dengan agama tetapi juga bekal keterampilan. [ipk]

Bagikan Ini :