Acara diskusi "Mengakhiri Polemik Politisasi Bendera" di Kawasan Cikini, Jakarta Pusat.Kamis (23/11/18)/Fahri

telusur.co.id – Ketua Gerakan Nasional Pengawal Fatwa (GNPF) Ulama, Yusuf Muhammad Martak mengaku mendukung jika polemik tentang pembakaran bendera bertuliskan kalimat tauhid diakhiri. Namun, harus diperjelas dulu duduk permasalahannya, supaya masalah ini tidak muncul kembali si kemudian hari.

“Kalau kita mau berpikir jernih, masalah pembakaran bendera itu, sebenarnya yang perlu dipermasalahkan bukan benderanya. Kalau ada orang bakar barang, bukan barangnya yang dipermasalahkan, tapi orangnya, oknumnya,” kata Yusuf dalam diskusi Kaukus Muda Indonesi (KMI) bertajuk ‘Mengakhiri Polemik Politisasi Bendera’ di Hotel Alia Cikini, Jakarta Pusat, Jumat (23/11/18).

Kemudian, kata dia, di saat umat Islam yang merasa tersinggung dan kelompok umat Islam lainnya yang terlanjur salah mengantisipasi pembakaran bendera bertuliskan kalimat tauhid sedang mencari mediasi, justru aparat yang meperkeruh dengan menyatakan bendera tersebut adalah bendera Hizbut Tahrir Indonesia (HTI).

“Tiba tiba beberapa aparat menyampaikan hal tak taktis, bahwa itu bendera HTI. Di sini ini terjadi kekeruhan, bukan di antara umat Islam, tapi intervensi dan terlalu kebablasannya aparat,” ungkap Yusuf.

Makanya, lanjut dia, ketika unjuk rasa bela tauhid, yang saat itu tak bisa berjumpa dengan Menkopolhukam Wiranto, dia menyampaikan kenapa Wiranto berkomentar tanpa mengkaji lebih dalam.

“Kalau itu dianggap bendera HTI, yuk kita putar bareng-bareng videonya, tidak ada logo HTI. Jadi clear yang dibakar itu kalimat tauhid,” tambahnya.

Karenanya, supaya tak terjadi perbedaan, yang dituntut adalah pasal membuat gaduh yakni pasal 174 KUHP, bukan pasal 156 tentang penodaan simbol agama.

“Kalau (pasal) 174 ditahan sekian hari, di sini beda jauh dengan salah satu ketua organisasi yang mengakui bahwa yang bakar itu anggotanya menyatakan maaf, dan menginstruksikan jangan sampai terulang lagi. Jadi ini tidak imbang dengan yang disampaikan Bareskrim, jadi itu yang buat keruh,” demikian Yusuf.[far]

Bagikan Ini :